Karena itu, tidak tepat jika waktu pencernaan hanya ditentukan berdasarkan nama makanan, seperti "mi instan pasti dicerna sekian jam".
Meski mitos soal mi instan yang mengendap lama di lambung tidak tepat, bukan berarti mi instan bisa dikonsumsi tanpa memperhatikan jumlah dan pola makan.
Mi instan umumnya tidak dirancang untuk menjadi satu-satunya sumber zat gizi dalam makanan sehari-hari. Karena itu, pola konsumsi tetap penting diperhatikan.
Mi instan bisa dilengkapi dengan sumber protein seperti telur, ayam atau ikan serta sayuran agar satu porsi makanan menjadi lebih beragam. Penggunaan bumbu juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing.
Yang perlu diperhatikan adalah pola makan secara keseluruhan, bukan sekadar apakah mi instan "lama dicerna" atau tidak.
Penelitian pada populasi juga menemukan adanya hubungan antara konsumsi mi instan yang lebih sering dengan beberapa faktor risiko kardiometabolik. Namun, penelitian semacam ini bersifat observasional sehingga tidak serta-merta membuktikan bahwa mi instan secara langsung menyebabkan kondisi tersebut.
Jadi, anggapan bahwa mi instan mengendap berhari-hari di lambung sebaiknya tidak dipercaya begitu saja.
Mi instan tetap mengalami proses pencernaan seperti makanan lainnya. Struktur dan cara pengolahannya memang dapat memengaruhi proses pemecahan zat gizi, tetapi lama makanan berada di dalam tubuh dipengaruhi oleh banyak faktor.
Yang lebih penting, konsumsi mi instan tetap ditempatkan sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang, bukan sebagai makanan utama setiap hari.