NADIKABAR.COM — Mi instan sering dikaitkan dengan berbagai anggapan soal kesehatan, salah satunya disebut lebih sulit atau lebih lama dicerna dibandingkan makanan lain.

Anggapan tersebut cukup sering muncul karena mi instan melewati proses pengolahan yang berbeda sebelum sampai ke meja makan. Ada pula anggapan bahwa mi instan dapat "mengendap" di dalam lambung hingga berjam-jam atau bahkan berhari-hari.

Namun, benarkah mi instan membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk dicerna?

Jawabannya tidak sesederhana itu. Lama makanan berada di saluran pencernaan dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari komposisi makanan, ukuran partikel, kandungan lemak, cara memasak hingga kondisi sistem pencernaan seseorang.

Mi instan tidak mengendap berhari-hari di lambung

Salah satu mitos yang cukup populer adalah mi instan membutuhkan waktu sangat lama untuk dicerna sehingga tetap berada di dalam lambung selama berhari-hari.

Faktanya, makanan tidak sekadar "diam" di dalam lambung sampai selesai dicerna. Setelah masuk ke lambung, makanan akan dicampur dengan cairan dan enzim pencernaan hingga berubah menjadi bentuk yang lebih cair atau disebut kimus.

Lambung kemudian secara bertahap mengosongkan isinya menuju usus halus. Di sana, proses pencernaan dilanjutkan dan sebagian besar zat gizi diserap tubuh.

Menurut Mayo Clinic, rata-rata makanan membutuhkan sekitar enam jam untuk melewati lambung dan usus halus. Setelah itu, sisa makanan masuk ke usus besar dan dapat membutuhkan sekitar 36 hingga 48 jam untuk melewati bagian tersebut sebelum akhirnya dikeluarkan sebagai feses.

Artinya, waktu tersebut merupakan keseluruhan perjalanan makanan dalam sistem pencernaan, bukan berarti mi instan berada di lambung selama berhari-hari.

Lalu, apakah mi instan memang lebih sulit dicerna?

Ada sedikit konteks ilmiah yang perlu diperhatikan.

Penelitian mengenai mi instan menunjukkan bahwa karakteristik struktur mi dapat memengaruhi proses pencernaan pati. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Food Research International pada 2025 menemukan bahwa proses perebusan, pengukusan dan pendinginan dapat mengubah struktur pati serta tekstur mi, sehingga memengaruhi seberapa cepat pati dipecah oleh enzim pencernaan dalam pengujian laboratorium.

Penelitian lain yang diterbitkan di Frontiers in Nutrition juga menemukan bahwa proses penggorengan pada pembuatan mi instan dapat memengaruhi struktur makanan dan menurunkan tingkat kecernaan pati serta protein dalam pengujian in vitro.

Namun, hasil penelitian laboratorium tersebut tidak bisa langsung diterjemahkan menjadi kesimpulan bahwa mi instan akan "berada lebih lama" di dalam lambung manusia.

Dengan kata lain, proses pencernaan mi instan memang dapat dipengaruhi oleh karakteristik dan cara pengolahannya, tetapi bukan berarti mi instan tidak bisa dicerna atau tertahan berhari-hari di lambung.

Berapa lama makanan berada di lambung?

Waktu pengosongan lambung sebenarnya berbeda-beda untuk setiap orang dan setiap jenis makanan.

Cleveland Clinic menjelaskan bahwa pemeriksaan pengosongan lambung pada makanan padat umumnya dilakukan hingga empat jam. Pada kondisi normal, lebih dari 90 persen makanan padat yang diuji sudah meninggalkan lambung dalam tiga jam.

Komposisi makanan juga berpengaruh. Makanan dengan kandungan lemak yang lebih tinggi, misalnya, dapat membuat pengosongan lambung berlangsung lebih lambat dibandingkan makanan tertentu yang lebih sederhana.

Karena itu, tidak tepat jika waktu pencernaan hanya ditentukan berdasarkan nama makanan, seperti "mi instan pasti dicerna sekian jam".

Meski mitos soal mi instan yang mengendap lama di lambung tidak tepat, bukan berarti mi instan bisa dikonsumsi tanpa memperhatikan jumlah dan pola makan.

Mi instan umumnya tidak dirancang untuk menjadi satu-satunya sumber zat gizi dalam makanan sehari-hari. Karena itu, pola konsumsi tetap penting diperhatikan.

Mi instan bisa dilengkapi dengan sumber protein seperti telur, ayam atau ikan serta sayuran agar satu porsi makanan menjadi lebih beragam. Penggunaan bumbu juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing.

Yang perlu diperhatikan adalah pola makan secara keseluruhan, bukan sekadar apakah mi instan "lama dicerna" atau tidak.

Penelitian pada populasi juga menemukan adanya hubungan antara konsumsi mi instan yang lebih sering dengan beberapa faktor risiko kardiometabolik. Namun, penelitian semacam ini bersifat observasional sehingga tidak serta-merta membuktikan bahwa mi instan secara langsung menyebabkan kondisi tersebut.

Jadi, anggapan bahwa mi instan mengendap berhari-hari di lambung sebaiknya tidak dipercaya begitu saja.

Mi instan tetap mengalami proses pencernaan seperti makanan lainnya. Struktur dan cara pengolahannya memang dapat memengaruhi proses pemecahan zat gizi, tetapi lama makanan berada di dalam tubuh dipengaruhi oleh banyak faktor.

Yang lebih penting, konsumsi mi instan tetap ditempatkan sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang, bukan sebagai makanan utama setiap hari.