Lalu, apakah mi instan memang lebih sulit dicerna?
Ada sedikit konteks ilmiah yang perlu diperhatikan.
Penelitian mengenai mi instan menunjukkan bahwa karakteristik struktur mi dapat memengaruhi proses pencernaan pati. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Food Research International pada 2025 menemukan bahwa proses perebusan, pengukusan dan pendinginan dapat mengubah struktur pati serta tekstur mi, sehingga memengaruhi seberapa cepat pati dipecah oleh enzim pencernaan dalam pengujian laboratorium.
Penelitian lain yang diterbitkan di Frontiers in Nutrition juga menemukan bahwa proses penggorengan pada pembuatan mi instan dapat memengaruhi struktur makanan dan menurunkan tingkat kecernaan pati serta protein dalam pengujian in vitro.
Namun, hasil penelitian laboratorium tersebut tidak bisa langsung diterjemahkan menjadi kesimpulan bahwa mi instan akan "berada lebih lama" di dalam lambung manusia.
Dengan kata lain, proses pencernaan mi instan memang dapat dipengaruhi oleh karakteristik dan cara pengolahannya, tetapi bukan berarti mi instan tidak bisa dicerna atau tertahan berhari-hari di lambung.
Berapa lama makanan berada di lambung?
Waktu pengosongan lambung sebenarnya berbeda-beda untuk setiap orang dan setiap jenis makanan.
Cleveland Clinic menjelaskan bahwa pemeriksaan pengosongan lambung pada makanan padat umumnya dilakukan hingga empat jam. Pada kondisi normal, lebih dari 90 persen makanan padat yang diuji sudah meninggalkan lambung dalam tiga jam.
Komposisi makanan juga berpengaruh. Makanan dengan kandungan lemak yang lebih tinggi, misalnya, dapat membuat pengosongan lambung berlangsung lebih lambat dibandingkan makanan tertentu yang lebih sederhana.