"Kita tuh selalu terbiasa bahwa yang muda yang belajar. Tapi ternyata di sini kita melihat juga masih belajar," kata Stephanie.
Menurut Stephanie, kelompok tersebut juga aktif mengeksplorasi perkembangan teknologi, mulai dari menggunakan berbagai aplikasi hingga mengenal AI. Mereka juga memanfaatkan media sosial untuk mencari informasi dan mengikuti tren.
Dilihat dari Aspirasi, Bukan Sekadar Usia
Strategic Planner Hakuhodo Agresti Reno mengatakan berbagai temuan tersebut menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap kelompok usia matang. Menurutnya, mereka tidak lagi cukup dilihat berdasarkan usia maupun peran yang dijalankan dalam keluarga. Aspirasi personal juga menjadi bagian penting untuk memahami kelompok tersebut.
"Mereka mau memenuhi hal-hal yang dulu belum mereka berikan untuk dirinya sendiri," ujar Agresti.
Ia menjelaskan, kelompok tersebut mulai memiliki kesempatan untuk mengejar berbagai hal yang sebelumnya belum sempat dilakukan. Karena itu, cara brand melihat mereka juga perlu bergeser.
"Seperti yang kita lihat sekarang, kita sudah bisa mengenal mereka dari aspirasinya, bukan hanya dari umurnya," katanya.
Hakuhodo pun melihat perubahan tersebut sebagai peluang bagi brand untuk lebih memahami kelompok yang selama ini cenderung terlewatkan. Bertambahnya usia tidak selalu berarti berkurangnya keinginan untuk berkembang, mengonsumsi, maupun mencoba hal baru.
Dengan aspirasi personal yang tetap kuat, kemampuan finansial, serta keterlibatan dalam ruang digital, Milenial hingga Baby Boomer dinilai memiliki potensi untuk menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi brand.