Dwi menjelaskan, penetapan harga Rp 5.000 bukan tanpa alasan. Konsep ini lahir dari semangat kebersamaan agar seluruh lapisan masyarakat-mulai dari anak-anak hingga para lansia-bisa menikmati aneka hidangan lezat tanpa beban biaya.
Onde-onde dan klanting buatan ibu-ibu PKK menjadi dua menu paling diburu, terutama oleh para sesepuh dusun yang merindukan cita rasa jajanan khas masa lalu.
"Yang best seller itu onde-onde sama klanting. Biasanya yang paling suka para sesepuh atau orang-orang tua karena memang jajanan itu sudah familiar bagi mereka," tambahnya.
Dampak positif dari ketulusan dan kerja keras ibu-ibu ini langsung terpancar dari respons pasar. Hanya dalam kurun waktu kurang dari satu jam, ribuan porsi makanan yang disiapkan ludes diserbu pembeli.
Antusiasme ini tidak hanya datang dari warga Dusun Tlogo sendiri, tetapi juga meluap hingga warga desa tetangga seperti Surabayan dan Bandungsari yang sengaja datang untuk memborong hasil karya ibu-ibu PKK.
Salsa, salah seorang pengunjung, mengaku takjub dan bangga dengan kreativitas warga lokal. Ia memborong berbagai jenis makanan sebagai bentuk dukungan terhadap usaha ibu-ibu di kampungnya.