"Ini saya beli banyak jajan, Mas. Tiap tahun ramai sekali. Murah sekali, murah meriah," tutur Salsa penuh gembira sembari menunjukkan kantong belanjaannya yang berisi nasi goreng, onde-onde, dan es teler.
Bagi Dwi Susanti dan anggota PKK lainnya, keberhasilan melariskan ribuan porsi jajanan dalam hitungan menit ini memberikan pesan kuat, yakni potensi perempuan di tingkat akar rumput sangat luar biasa jika diberi ruang dan kesempatan.
Kini, tradisi tahunan tersebut diproyeksikan untuk melangkah lebih jauh. Dwi bermimpi agar gerakan jajanan serba Rp 5.000 ini dapat bertransformasi menjadi identitas permanen Dusun Tlogo sekaligus motor penggerak ekonomi berkelanjutan bagi para ibu.
"Harapan saya ke depan bisa menjadi ikon Dusun Tlogo, mendongkrak UMKM ibu-ibu PKK, dan menghasilkan pendapatan untuk ibu-ibu sendiri," pungkas Dwi optimis.
Dari sebuah lapak sederhana, ibu-ibu Dusun Tlogo telah menorehkan kisah inspiratif. Mereka mengajarkan bahwa dari niat tulus, kebersamaan, dan modal kreatif yang terjangkau, perempuan mampu berdaya, membantu menopang dapur keluarga, sekaligus menghidupkan kehangatan di tengah masyarakat.