National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) memasukkan kopi dan minuman berkafein sebagai salah satu pemicu yang umum dikaitkan dengan gejala penyakit refluks gastroesofageal atau GERD. Meski demikian, pemicunya dapat berbeda pada setiap orang.
Orang yang sering mengalami sensasi terbakar di dada, rasa asam di tenggorokan, atau keluhan setelah minum kopi dapat mencoba mengurangi konsumsinya dan memperhatikan perubahan gejala.
3. Menyebabkan mual atau perut tidak nyaman
Pada sebagian orang, minum kopi sebelum makan dapat menimbulkan mual, mulas, atau rasa tidak nyaman di perut. Reaksi tersebut dapat dipengaruhi oleh sensitivitas terhadap kafein, jumlah kopi yang dikonsumsi, serta kondisi pencernaan.
Orang yang memiliki dispepsia atau gangguan pencernaan tertentu juga mungkin merasakan gejala yang memburuk setelah mengonsumsi minuman berkafein. NIDDK menyarankan agar penderita memperhatikan makanan dan minuman yang memicu keluhan, termasuk kopi jika terbukti memperburuk gejala.
Namun, keluhan tersebut tidak berarti semua orang harus menghindari kopi saat perut kosong. Jika tidak menimbulkan gejala, kebiasaan tersebut umumnya tidak menjadi masalah bagi orang dewasa yang sehat.
4. Membuat jantung berdebar dan memicu kecemasan
Selain memengaruhi pencernaan, kafein dapat memengaruhi sistem saraf. Konsumsi berlebihan atau sensitivitas terhadap kafein dapat menyebabkan jantung berdebar, gelisah, gemetar, mual, hingga gangguan tidur.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyebut konsumsi kafein hingga 400 miligram per hari umumnya tidak dikaitkan dengan efek negatif pada sebagian besar orang dewasa. Jumlah tersebut bukan batas yang cocok untuk semua orang karena respons tubuh dipengaruhi kondisi kesehatan, obat yang digunakan, berat badan, dan sensitivitas individu.
Jumlah kafein dalam secangkir kopi juga bervariasi menurut jenis biji, metode penyeduhan, ukuran sajian dan kekuatan seduhan. Karena itu, konsumsi kopi sebaiknya tidak hanya dihitung berdasarkan jumlah cangkir.