NADIKABAR.COM — Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama Nanyang Technological University (NTU) Singapura mengembangkan pemanfaatan teknologi observasi geospasial untuk memperkuat mitigasi risiko bencana di Indonesia.

Direktur Sistem Referensi Geospasial BIG Moh. Fifik Syafiudin di Cibinong, Kabupaten Bogor, Senin, mengatakan kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga riset diperlukan untuk meningkatkan efektivitas mitigasi bencana.

"Intinya semangatnya sama, untuk mengefektifkan, mengefisienkan mitigasi bencana, kita memang harus perkuat kerja sama dengan berbagai pihak," kata Fifik.

Menurut dia, kolaborasi BIG dengan NTU melalui Earth Observatory of Singapore (EOS) antara lain mencakup pengembangan teknologi serta pertukaran pengetahuan dan pengalaman mengenai pemantauan kebencanaan.

Ia menjelaskan setiap bencana memiliki karakteristik berbeda sehingga membutuhkan pendekatan mitigasi yang berbeda pula, baik bencana akibat pergerakan tanah maupun perubahan iklim dan hidrometeorologi.

"Nah, ini memiliki pola mitigasi yang berbeda-beda. Itu yang kita pelajari dari mereka," ujarnya.

Salah satu infrastruktur yang dimanfaatkan BIG untuk observasi tersebut yaitu Indonesian Continuously Operating Reference Station (Ina-CORS). Hingga 2026 BIG mengelola 476 stasiun Ina-CORS yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Jaringan Ina-CORS yang semula dikembangkan untuk mendukung survei, pemetaan, dan penyediaan informasi posisi kini juga dimanfaatkan untuk pemantauan gempa bumi, aktivitas gunung api, penurunan muka tanah, hingga longsor.

Direktur Laboratorium Penginderaan Jauh NTU Sang Ho Yun menjelaskan data Global Navigation Satellite System (GNSS) dari jaringan CORS memiliki presisi dan akurasi tinggi sehingga dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemantauan kebencanaan.

Kolaborasi tersebut juga memadukan data GNSS dengan Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR). GNSS menjadi referensi pengukuran absolut, sedangkan InSAR digunakan untuk mengamati perubahan permukaan secara relatif sehingga keduanya dapat saling melengkapi.

Salah satu penerapannya dilakukan melalui proyek SUNIO dengan pemasangan instrumen berbiaya rendah di Sulawesi untuk memantau akumulasi regangan pada Sesar Matano di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Sang Ho Yun mengatakan hasil pengolahan data SUNIO memungkinkan untuk dibuka kepada publik, tetapi tidak seluruh data mentah dapat dipublikasikan karena terdapat perjanjian kerahasiaan antara pihak yang bekerja sama.

"Kami mungkin membuka datanya, tetapi hanya data yang sudah diproses yang akan dibuka untuk publik," ucapnya.

Selain Ina-CORS, BIG mengoperasikan 290 stasiun pengukur pasang surut dalam jaringan Ina-Tides untuk memperkuat pengamatan perubahan muka laut, termasuk menyediakan data mengenai respons muka laut setelah kejadian gempa dan tsunami.