Namun, hilangnya kepala menghilangkan masukan sensorik dan pengaturan dari otak. Koordinasi gerakan tidak sama dengan kecoa utuh.
Jika melihat tubuh kecoak tanpa kepala masih bergerak, itu bukan berarti serangga tersebut menjalankan seluruh aktivitas seperti biasa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian kendali gerakan pada serangga berada di luar otak.
Durasi bertahan kecoa tanpa kepala bervariasi tergantung pada spesies, kondisi lingkungan, kelembapan, dan seberapa parah luka di lehernya.
Penelitian menunjukkan tubuh kecoak tanpa kepala umumnya bertahan dalam rentang beberapa hari hingga beberapa minggu. Entomolog Christopher Tipping dari Delaware Valley College melakukan penelitian pada Periplaneta americana (American cockroach) dan menemukan beberapa individu bertahan selama beberapa minggu di laboratorium ketika luka lehernya disegel dengan lilin gigi untuk mencegah pengeringan.
Dalam kondisi alami tanpa perlakuan khusus, mayoritas penelitian dan pengamatan melaporkan kecoak tanpa kepala bertahan sekitar seminggu sebelum akhirnya mati. Durasi yang lebih panjang dapat terjadi pada kondisi tertentu, seperti lingkungan yang sangat lembap. Sebaliknya, dalam kondisi kering, kecoa akan mati lebih cepat karena dehidrasi.
Pernyataan umum yang sering didengar, misalnya "kecoak bisa hidup satu bulan tanpa kepala," tidak akurat untuk semua spesies atau kondisi. Durasi tersebut hanya tercatat pada situasi laboratorium spesifik dengan intervensi khusus seperti penyegelan luka.
Formulasi yang lebih akurat adalah: Kecoak dapat bertahan tanpa kepala selama beberapa hari hingga beberapa minggu, bergantung pada spesies, lingkungan, dan kondisi luka.
Kemampuan bertahan tanpa kepala memiliki batas.
Setelah kepala terpisah, kecoa kehilangan mulut sehingga tidak dapat makan. Cadangan energi yang tersimpan dalam tubuh habis pada titik tertentu. Air menjadi masalah yang lebih mendesak.
Kecoak masih membutuhkan air untuk mempertahankan fungsi tubuh. Kehilangan cairan dari tubuh dan luka menyebabkan dehidrasi. Luka juga meningkatkan risiko infeksi.
Penelitian entomologi menunjukkan kecoa yang kehilangan kepala mati akibat kehilangan air dan infeksi, termasuk masuknya mikroorganisme melalui luka.
Kematian kecoa tanpa kepala bukan sekadar karena "kehabisan makanan". Dehidrasi dan infeksi sama pentingnya.
Tanpa kepala, kecoak kehilangan mulut dan saluran yang diperlukan untuk memasukkan makanan.
Kecoak memang bertahan cukup lama tanpa makanan. Namun tubuh tidak dapat terus berfungsi tanpa asupan energi.
Selama cadangan energi tersimpan, beberapa fungsi tubuh terus berlangsung. Setelah cadangan menurun, tubuh tidak mampu lagi mempertahankan fungsi fisiologisnya.
Air adalah masalah yang lebih mendesak.
Kecoak tanpa kepala tidak dapat minum seperti biasa. Pada saat yang sama, tubuh terus kehilangan air.
Penelitian tentang fisiologi kecoak menunjukkan bahwa pengaturan kehilangan air dan pola pertukaran gas berhubungan dengan kemampuan serangga bertahan dalam kondisi kekurangan air.
Kondisi lingkungan memengaruhi berapa lama tubuh kecoak bertahan setelah kehilangan kepala. Lingkungan yang sangat lembap dapat memperpanjang waktu bertahan, sementara lingkungan kering mempercepat kematian.