Pemenggalan tidak membuat seluruh cairan tubuh kecoak langsung keluar seperti pada manusia yang mengalami luka besar.
Kecoa memiliki sistem peredaran darah terbuka dengan tekanan relatif rendah. Luka dapat mengalami pembekuan yang membantu membatasi kehilangan hemolimfa.
Namun, ini bukan berarti kecoak tidak kehilangan cairan. Luka tetap menjadi tempat masuk mikroorganisme dan meningkatkan risiko infeksi.
Tidak tepat menyebut kecoa memiliki dua otak.
Istilah tersebut kemungkinan muncul karena sistem saraf kecoak memiliki banyak pusat saraf di luar otak. Kecoak memiliki otak di bagian kepala. Selain itu, terdapat ganglia pada bagian tubuh lain yang mengendalikan sejumlah aktivitas.
Karena ganglia menjalankan fungsi tertentu secara lokal, tubuh kecoa masih menghasilkan gerakan setelah kepala terpisah.
Menyebut ganglia sebagai "otak kedua" atau mengatakan kecoa memiliki dua otak adalah penyederhanaan yang tidak akurat secara anatomi.
Dapat menunjukkan aktivitas untuk sementara waktu.
Kepala yang terpisah masih memiliki jaringan saraf dan mempertahankan aktivitas tertentu. Scientific American mengungkapkan antena kepala kecoa dapat bergerak selama beberapa waktu setelah kepala terpisah.
Namun, aktivitas tersebut tidak berarti kepala dapat hidup mandiri dalam jangka panjang. Kepala tidak memiliki kemampuan memperoleh makanan dan air setelah terpisah dari tubuh.
Kecoak bukan satu spesies. Terdapat ribuan spesies dengan karakteristik biologis berbeda.
Hasil penelitian pada satu spesies tidak otomatis berlaku untuk semua kecoak. Variasi kemampuan bertahan setelah dekaptasi terlihat di tim redaksi kelompok berbeda berdasarkan ukuran tubuh, metabolisme, dan spesies. Data dari penelitian menunjukkan bahwa kecoak yang lebih besar umumnya dapat bertahan lebih lama dibanding kecoak yang lebih kecil.
Faktor lingkungan juga penting. Suhu, kelembapan, ketersediaan air, kondisi luka dan cadangan energi memengaruhi kemampuan tubuh untuk bertahan.
Cerita tentang kecoa yang dapat hidup tanpa kepala memiliki dasar ilmiah, tetapi sering dibumbui hingga terdengar seperti kemampuan luar biasa tanpa batas.
Tubuh kecoak memang bertahan setelah kepala terpisah. Sistem pernapasannya tidak bergantung pada kepala, sementara sistem sarafnya memiliki ganglia di bagian tubuh lain yang memungkinkan aktivitas tetap berlangsung.
Tubuh tersebut masih menghasilkan gerakan tertentu. Namun, kecoa tanpa kepala tidak hidup normal. Ia tidak dapat makan, menghadapi kehilangan air dan rentan terhadap infeksi. Tubuh akan mati.
Lama bertahannya pun bervariasi untuk setiap individu dan spesies. Umumnya berkisar dari beberapa hari hingga beberapa minggu dalam kondisi alami. Dalam kondisi laboratorium khusus dengan penyegelan luka, beberapa kecoa dilaporkan dapat bertahan lebih lama. Namun, variasi ini tidak boleh dianggap sebagai batas universal untuk semua spesies.
Jika pertanyaannya adalah "Benarkah kecoak bisa hidup tanpa kepala?", jawabannya adalah ya, untuk sementara waktu.
Jika pertanyaannya berubah menjadi "Apakah kecoak dapat hidup normal tanpa kepala?", jawabannya adalah tidak.
Perbedaan itulah yang membuat fenomena ini menarik. Bukan karena kecoak tidak membutuhkan kepala, melainkan karena tubuh serangga memiliki sistem pernapasan, saraf dan fisiologi yang berbeda dari manusia.