Kecantikan perempuan itu membuat si lelaki terpikat. Lalu, dengan kemahirannya, dia melakukan pendekatan. Dengan gaya pendekatan khas orang kota, perempuan setempat itu pun luluh sehingga keduanya membuat janji untuk keluar dari keriuhan pesta itu dan pergi jalan-jalan.

Mereka jalan-jalan sambil mengobrol saja sampai jauh dari keramaian. Hingga pada suatu tempat, perempuan itu tiba-tiba menghilang!

Lelaki itu melihat ke sekeliling. Sepi belaka! Ketika dia sadar perempuan itu sudah menghilang, tersadar pula dia sedang berada di tengah-tengah pekuburan. Lelaki itu ketakutan dan teriak-teriak minta tolong.

Perjumpaan lain dengan Onom dicatat oleh seorang tokoh Muhammadiyah berjuluk Muallim. Namanya, Muallim Ahmad Syadili. Dia mengisahkan perjumpaannya dengan siluman ini dalam buku catatannya berjudul 'Hayang jadi Jalma Ngarti: Panineungan di Sakola jeung Pasantren (1921-1945)' (Unpad Press, 2019).

Syadili mengisahkan pengalamannya ketika menjadi santri dan melakukan perjalanan ke berbagai tempat, termasuk ketika harus berjalan kaki menembus wilayah hutan di sekitar Lakbok menuju Pamarican. Dia dan pamannya, teman dalam perjalanan itu, mengambil rute Manonjaya-Banjarsari-Pamarican.

"Waktu itu sudah Ashar. Saya berjalan kaki dengan bergegas. Di jalan yang agak datar, tiba-tiba tampak dari kejauhan ada seorang perempuan, memakai sandal selop, cara berjalannya juga santai, baju yang dipakainya pantas, seperti penampilan orang kota. Malah waktu itu saya agak sedikit guyon dengan paman, 'Silakan Mang! Tidak disangka di tengah-tengah hutan ada bintang!'. Pamanku tersenyum." tulis Muallim Syadili dalam bahasa Sunda.

Karena perempuan itu jalannya pelan, maka Syadili dan pamannya mendahuluinya sambil menyapa dengan ungkapan permisi. Perempuan itu pun menoleh dan menjawab silakan dengan ramah.

Selepas mendahului perempuan itu, jalan di tengah hutan itu dilanda hujan teramat deras. Mau bagaimana lagi, Syadili dan pamannya harus terus berjalan supaya sampai di perkampungan sebelum malam. Tak menghiraukan baju dan perbekalan yang basah kuyup.

Nah! Ketika tiba di tepi sungai untuk menyeberang menggunakan sebuah rakit yang disediakan warga setempat, dia melihat dari bibir sungai bahwa perempuan yang tadi dia dahului telah ada di seberang sungai. Tetapi, tampak bahwa baju yang dikenakan perempuan itu tidak basah sama sekali. Lagi pula gayanya sebagai 'perempuan kota' tidak lusuh, padahal sebelumnya hujan deras.