Di jalan selepas menyeberang sungai, Syadili dan pamannya kembali bisa mendahului perempuan itu karena jalan perempuan itu sangat pelan. Seperti pada pertemuan pertama, ketika mendahului, Syadili mengucap permisi. Perempuan itu pun kembali menjawab dengan ramah.
Beberapa langkah ke depan, Syadili iseng menoleh ke belakang. Perempuan itu hilang dari pandangan. Padahal, tidak ada jalan berbelok di sekitar itu.
"Paman, jangan-jangan itulah yang disebut 'urang Lakbok' (orang Lakbok)," tulisnya.
Selain menyerupai perempuan, Onom juga sering menandai keberadaannya di dunia manusia dengan suara tabuhan gamelan. Bukan sepintas, melainkan bunyi gamelan yang tamat sampai subuh.
Sialnya, kalau orang berkata-kata tidak sopan atau bertindak sembrono ketika suara gamelan itu terdengar, orang itu sering linglung. Sebagai contoh, jika sedang berjalan di sekitar rawa itu lalu mendengar gamelan, menurut kepercayaan orang situ, sebaiknya diam. Jangan mengikuti sumber suara gamelan.
Mereka yang penasaran dengan suara gamelan itu akan terus melangkah ke depan, tetapi ketika mencari jejak langkahnya untuk kembali, hanya gelap gulita pandangan belaka. Jalan yang tadi dilintasi tidak ditemukan, akhirnya tersesat di wilayah itu.
R.A. Danadibrata mengulas tentang suara gamelan tersebut. Pengalaman banyak orang ini menjadi bahan untuk sastrawan Saini K.M. menulis bab khusus dalam cerita silat seri Kesatria Hutan Larangan, tentang Rawa Siluman.
Yang dimaksud Rawa Siluman dalam cerita itu tiada lain adalah kawasan Onom dan Lakbok. Di dalam kisahnya, Pangeran Muda, anak Pangeran Anggadipati yang bertugas menumpas pengacau di wilayah itu, mengikuti bunyi gamelan.
Ketika semakin jauh ke dalam hutan di sekitar rawa, suara gamelan makin tegas. Tetapi meski semakin tegas suara musik itu, bahkan suara tertawa-tawa seperti di pasar malam, tidak ada cahaya obor sedikit pun. Pangeran Muda memutuskan untuk kembali ke tempatnya semula, tapi jalan di belakang hanya gulita belaka. Dia linglung sampai pagi.