"Pada tahun 2025, total perdagangan bilateral antara kedua negara mencapai 47,4 juta dolar AS. Dari jumlah tersebut, ekspor Mongolia hanya mencakup sekitar 168.000 dolar AS, sementara impor dari Indonesia ke Mongolia mencapai sekitar 47,25 juta dolar AS. Angka-angka ini menyoroti satu fakta penting: tingkat perdagangan bilateral saat ini masih jauh di bawah potensi maksimalnya," jelas Baatarjav.

Oleh karena itu, ia menyebut tujuan utama forum bisnis kali ini bukan sekadar membahas angka perdagangan saat ini, melainkan menjajaki bagaimana kedua negara dapat membawa hubungan ekonomi kita ke tingkat yang lebih tinggi, misalnya kerja sama di bidang pangan, pertanian, dan produk peternakan, khususnya dalam pengembangan rantai pasok daging dan produk olahan daging yang memenuhi standar halal.

"Mongolia memiliki keunggulan signifikan dalam hal bahan baku berbasis peternakan dan produk alam. Sementara itu, Indonesia, dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, merupakan salah satu pasar terbesar di Asia Tenggara serta konsumen utama produk pangan dan olahan," tambah Baatarjav.

Bidang lainnya adalah sektor pertambangan, peralatan pertambangan, teknologi, dan jasa.

"Dengan menghubungkan kebutuhan sektor pertambangan Mongolia dengan kemampuan manufaktur, teknologi, dan pasokan Indonesia, kita dapat melangkah lebih jauh dari sekadar perdagangan barang biasa menuju pengembangan kerja sama di bidang teknologi, jasa, investasi, dan proyek bersama," ungkap dia.

Bidang lain adalah sektor pariwisata karena Indonesia dikenal secara internasional karena pantai, pulau-pulau, lanskap tropis, budaya yang unik, serta beragam produk wisatanya. Sebaliknya, Mongolia menawarkan padang rumput luas yang terbuka, budaya nomaden, sejarah yang kaya, alam yang masih asli, wisata petualangan, dan tradisi yang khas.

"Dengan kata lain, kedua negara kita dapat saling menawarkan pengalaman perjalanan yang sangat berbeda dan menarik. Oleh karena itu, selain sekadar menarik wisatawan, kita perlu menjajaki peluang untuk menghubungkan secara langsung perusahaan pariwisata dari kedua negara serta mengembangkan produk dan program pariwisata bersama," jelas Baatarjav.

Ia menegaskan kedutaan besar, kamar dagang, dan organisasi bisnis dari kedua negara perlu berupaya lebih aktif untuk meningkatkan akses terhadap informasi bisnis serta saling bertukar informasi mengenai persyaratan pasar, standar, dan aspek teknis.