Sedangkan Atase Perdagangan KBRI Beijing Junita Syartika dalam acara yang sama mengatakan Indonesia memiliki berbagai komoditas seperti buah-buahan tropis dan produk olahan buah yang dapat diekspor. Selain itu juga tersedia berbagai rempah-rempah berkualitas tinggi.
"Anda tidak akan menemukan rempah-rempah yang persis sama kualitasnya dengan yang berasal dari Maluku dan Sulawesi di tempat lain," kata Junita.
Namun, berbeda dengan catatan Baatarjav, berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan RI, total nilai perdagangan RI-Mongolia pada 2025 adalah sebesar 56,6 juta dolar AS, yang didominasi oleh ekspor Indonesia sebesar 49,5 juta dolar AS. Sementara itu, impor Indonesia dari Mongolia hanya sebesar 6,5 juta dolar AS.
"Angka ini menunjukkan nilai perdagangan yang relatif kecil. Kita perlu menjajaki lebih banyak produk dari Indonesia, dan Indonesia juga akan menjajaki produk dari Mongolia terlebih kita tahu bahwa wol dan produk-produk lain dari Mongolia memiliki kualitas yang sangat baik," tambah Junita.
Ia juga mengajak para pengusaha dari Mongolia untuk ikut dalam Trade Expo Indonesia 2026 pada 14-18 Oktober 2026 agar dapat lebih mempromosikan produk-produk dari Mongolia.
Para pelaku usaha dari Indonesia yang hadir dalam forum bisnis tersebut antara lain Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia di China (INACHAM) Liky Sutikno, anggota INACHAM lain maupun perwakilan dari PT Rempah Galih (dengan produk bumub kering), PT Bali Hai Brewing (bir) dan PT Bospress Global Resources (prorduk ekstrak rumput laut), Filtech Energy (jasa pengembangan proyek industri khususnya di sektor petrokimia) dan perusahaan lainnya.
Sementara dari Mongolia hadir Presiden Kamar Dagang dan Industri Nasional Mongolia (Mongolian national Chamber of Commerce and Industry atau MNCCI) Baatarjav Lkhagvajav, Chandmani Consulting dan Xanadu Travel Mongol (bidang tur wisata) serta perusahaan lain di bidang logistik, keuangan dan farmasi.