NADIKABAR.COM — Lelaki 44 tahun bernama Ramesh Reddy ini mempertaruhkan semua yang ia miliki untuk lahan pertanian tomat seluas 3,5 hektare miliknya pada Juni 2026 lalu. Petani dari distrik Kolar di bagian selatan negara bagian Karnataka itu menggelontorkan modal sebesar 320.000 rupee (sekitar Rp 59,2 juta), dengan meminjam 250.000 rupee (sekitar Rp 46,2 juta) berbunga 24% per tahun dan menjaminkan perhiasan pernikahan istrinya sebagai agunan.

Hasil panen itu seharusnya digunakan untuk melunasi pinjaman dan membayar tunggakan biaya kuliah putranya. Namun, sumur irigasi di lahannya tiba-tiba mengering. Dalam waktu tiga minggu, tanaman tomat sudah menguning dan layu. Panennya pul gagal total.

"Saya telah kehilangan semua yang saya investasikan," katanya kepada DW. "Tidak ada uang tersisa untuk musim tanam berikutnya dan saya tidak tahu bagaimana cara melunasi pinjaman."

Kini, ia sedang mencoba menjajaki pekerjaan sebagai satuan pengamanan (satpam) di ibu kota negara bagian, Bengaluru dan bersiap meninggalkan lahan pertaniannya.

Bagi India, monsun bukan sekadar musim hujan empat bulan. Monsun berperan untuk mengisi ulang waduk, menopang pertanian, serta membantu menjaga pasokan air dan pembangkitan listrik di sebagian besar wilayah negara itu.

Hampir separuh angkatan kerja India bergantung pada pertanian untuk mata pencaharian mereka, pekerjaan yang berat sekaligus rentan secara ekonomi.

Tahun ini, India menerima curah hujan sebesar 759,4 milimeter antara Juni dan September, jauh di bawah rata-rata jangka panjang sebesar 868,6 milimeter. Defisit sebesar 12,6% ini menjadikannya monsun terkering dalam 11 tahun terakhir dan monsun terkering keempat pada abad ini.

Ilmuwan iklim sekaligus mantan sekretaris Kementerian Ilmu Bumi India, Madhavan Nair Rajeevan, mengatakan faktor utama di balik buruknya monsun tahun ini adalah fenomena El Nio yang parah, sebuah fenomena iklim global yang sebelumnya sudah ia peringatkan berisiko serius bagi curah hujan India.

"Sejauh menyangkut monsun India, El Nio adalah faktor yang paling berpengaruh dan harus kita pertimbangkan dengan sangat serius," papar Rajeevan kepada DW.

Dampaknya kini mulai terasa pada sistem air dan energi India. Waduk-waduk besar di seluruh negeri mengakhiri musim monsun dengan cadangan air di bawah normal, membuat petani dan sektor energi dengan penyangga yang lebih tipis untuk menghadapi bulan-bulan ke depan.

Total cadangan di 178 waduk yang dipantau oleh Komisi Air Pusat India tercatat sebesar 132,7 miliar meter kubik. Jumlahnya di bawah rata-rata 10 tahun sebesar 151,1 miliar meter kubik.