Kekurangan itu sudah mulai dirasakan dalam sektor pembangkitan listrik. Menurut data dari Grid India, produksi tenaga air turun hampir 16% pada bulan September dibanding tahun sebelumnya.
Pada saat yang sama, defisit listrik mencapai 560 juta kilowatt-jam, defisit bulanan tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Setelah matahari terbenam, ketika pembangkit surya berhenti beroperasi, jaringan listrik semakin kekurangan pilihan untuk menutup selisih tersebut.
Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara pun terpaksa menanggung beban lebih besar. Namun, sektor ini menghadapi persoalan tersendiri. Data dari Otoritas Listrik Pusat India menunjukkan bahwa sekitar 40% pembangkit batu bara memiliki stok bahan bakar yang kritis, jumlah pasokannya berada di bawah seperempat dari kebutuhan yang diperlukan.
Pemerintah telah memerintahkan sejumlah pembangkit listrik industri swasta untuk beroperasi pada kapasitas penuh dan menyalurkan kelebihan listrik ke jaringan nasional.
Para produsen pun sudah merasakan dampaknya. "Pasokan listrik yang tidak terputus sangat penting bagi unit-unit manufaktur, karena pemadaman listrik mengganggu siklus produksi," kata Ashok Gupta, ketua Asosiasi Industri Mohali yang mewakili hampir 600 usaha kecil dan menengah.
"Gangguan seperti ini tidak hanya menimbulkan kerugian bagi produsen, tetapi juga mengakibatkan pemborosan bahan baku."
Dampak ekonomi dari buruknya monsun dapat meluas jauh melampaui sektor pertanian. Melemahnya hasil pertanian dapat menekan pendapatan, lapangan kerja, dan daya konsumsi masyarakat pedesaan, sementara naiknya harga pangan menambah tekanan pada anggaran rumah tangga.
Arun Kumar, profesor ekonomi yang kini telah pensiun, mengatakan dampaknya bisa lebih luas dari yang tercatat dalam angka-angka ekonomi utama, terutama karena sebagian besar ekonomi pedesaan India beroperasi di luar sektor formal.
"Pembangunan ekonomi perlu dinilai melalui seperangkat indikator yang lebih luas," kata Kumar kepada DW. Menurutnya, melemahnya produksi pertanian dapat mendorong kenaikan harga pangan sekaligus menekan pendapatan dan daya konsumsi.
Himanshu, ekonom pembangunan di Jawaharlal Nehru University Delhi, menggambarkan situasi ini sebagai "guncangan ganda" bagi rumah tangga pedesaan, ketika pendapatan pertanian yang melemah hadir bersamaan dengan harga pangan yang melonjak.
"Ketika pendapatan pertanian turun dan harga pangan naik, rumah tangga pedesaan menghadapi tekanan pada daya beli mereka," katanya kepada DW.