NADIKABAR.COM — bingar rilis rapor kepuasan publik terhadap tahun kedua kepemimpinan Prabowo Gibran, sejumlah pihak tengah gelisah akibat turunnya level IHSG ke level terendah sejak Covid-19. Hal ini tentu saja menjadi catatan khusus terhadap respons pemerintah dalam menanggapi kondisi ini.

Namun saat masyarakat masih menganalisis alasan ultimatum MSCI untuk menurunkan status IHSG pekan lalu, muncul gebrakan dari eks Menteri Perdagangan RI era SBY dan Jokowi, Muhammad Luthfi. Mengutip NadiKabar, Luthfi menuding adanya campur tangan Singapura terhadap keputusan MSCI untuk menurunkan status IHSG ke level Standalone Market.

Luthfi menyebut, Singapura menekan MSCI melalui Government of Singapore Investment Corporation (GIC) untuk menurunkan status pasar modal Indonesia agar muncul kepanikan di pasar saham. Muaranya, investor asing bisa kembali membeli saham Indonesia dengan harga murah.

"Lalu, kenapa Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang punya pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia? Bahkan saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Goh di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan," ujar Luthfi dikutip NadiKabar dari Instagram pribadinya, Selasa (20/10/2026).

Selain itu, Luthfi juga mengatakan jika transparansi kepemilikan saham yang dipersoalkan MSCI hanyalah alasan belaka. Seperti dikutip NadiKabar, Luthfi menyebut jika penurunan status ini karena ada kepentingan investor asing.

Tudingan ini kemudian disanggah oleh BEI. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik meyakini jika MSCI bekerja secara independen. Tidak menanggapi lebih dalam soal pernyataan Luthfi, ia menyebut jika saat ini BEI memilih fokus pada langkah-langkah teknis untuk memperbaiki pasar modal Indonesia.