Diorama yang selama puluhan tahun menjadi objek utama pengamatan pengunjung kini ditempatkan dalam alur cerita yang lebih lengkap, sehingga pengunjung mendapat konteks mengenai peristiwa yang ditampilkan.

Sebanyak 34 diorama asli tetap dipertahankan. Koleksi tersebut menggambarkan berbagai peristiwa sejarah Indonesia dalam rentang 1945 hingga 1974. Dengan mempertahankan diorama autentik, revitalisasi tidak mengubah benda utama yang menjadi bagian dari identitas museum. Hal yang diperbarui terutama cara pengunjung berinteraksi dengan koleksi tersebut.

Fadli menjelaskan penyempurnaan dilakukan karena urutan peristiwa dan lini masa yang sebelumnya disajikan belum cukup lengkap. Para sejarawan dilibatkan untuk melengkapi narasi dan konteks sejarah. Perubahan itu membuat alur pameran tidak semata-mata bergantung pada benda tiga dimensi, melainkan pada informasi yang menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.

Perubahan cara penyampaian terlihat sejak pengunjung memasuki ruang pamer. Museum, kini menggunakan konsep in-situ, dengan alur yang menghubungkan gedung museum dan sejumlah situs bersejarah di kawasan Lubang Buaya.