Mirip dengan Ivon, Bara sempat merasa takut dan pesimis karena berada dalam posisi minoritas. Ia mengakui, hal itu menjadi tantangan studinya karena mempelajari ilmu dan berinteraksi dalam lingkungan sosial dengan latar belakang agama yang berbeda.

"Saya belajar ilmu yang berbeda (atau) lintas agama, dan terlibat dengan lingkungan sosial agama yang berbeda pula," katanya.

Dengan budaya UIN Jakarta, Bara merasa nyaman dalam menyelesaikan studi karena antarmahasiswa memiliki sikap yang saling menghormati. Kondisi ini membuat terciptanya lingkungan yang inklusif dan terbuka. Bara merupakan Dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Baptis Kalvari Jakarta.

Dr Gregorius adalah seorang Pastor Katolik yang menyelesaikan S3 di SPs UIN Jakarta pada 2017. Tidak hanya akademik, Gregorius mengaku bertemu dengan teman, guru hebat, dan pelajaran hidup selama menempuh kuliah di UIN.

Pengalaman perkuliahannya, juga kerap ia bawa kepada jemaatnya dan berpesan untuk turut membangun relasi Islam-Kristen yang baik. Di sidang doktoralnya, Gregoris membawa disertasi berjudul berjudul "Bahasa, Kekuasaan dan Sejarah: Historiografi Islam Marshall G.S. Hodgson dalam Perspektif Kajian Poststrukturalisme Michel Foucault".

Disertasi ini mendapat pujian. Gregorius juga disebut sebagai representasi relasi Muslim-Katolik yang harmonis.

UIN Jakarta menyebut pengalaman para doktor non-muslim menjadi bukti bila kampus, khususnya SPs UIN Jakarta tidak hanya menjadi ruang pengembangan keilmuan. Tetapi, kampus juga bisa jadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang agama dan budaya.