Perubahan ini menarik perhatian peneliti karena pati resisten dapat membuat respons gula darah setelah makan menjadi lebih rendah. Jadi, bukan sekadar nasi panas versus nasi dingin, tetapi ada proses kimia di balik semangkuk nasi yang sudah didinginkan.
Dilansir dari penelitian Sonia dkk (2015), disebutkan kandungan pati resisten pada nasi putih meningkat setelah didinginkan. Nasi yang baru matang mengandung sekitar 0,64 gram pati resisten per 100 gram, sedangkan nasi yang didinginkan selama 24 jam pada suhu 4 derajat Celsius lalu dipanaskan kembali mencapai 1,65 gram per 100 gram.
Bukan cuma kandungannya yang berubah. Dalam penelitian yang sama terhadap 15 orang dewasa sehat, nasi yang telah didinginkan lalu dipanaskan kembali menghasilkan respons glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi yang baru matang. Nilainya sekitar 125 dibanding 152 mmolΒ·min/L.
Lantas, apakah berarti nasi dingin otomatis lebih sehat? Belum tentu juga. Cara penyimpanan, jumlah nasi yang dimakan, lauk pendamping, dan kondisi kesehatan seseorang juga tetap berpengaruh.