NADIKABAR.COM — Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) memulai program Nature-Based Solution (NbS) dengan memadukan pemulihan mangrove dan penggunaan alat pemecah ombak (APO) di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Pembangunan ini membawa berkah dan harapan baru bagi warga sekitar.

Dalam beberapa dekade terakhir, kawasan Pantai Utara Jawa mengalami tantangan penurunan muka tanah (land subsidence), tekanan pembangunan, dan perubahan iklim. Kombinasi faktor tersebut memicu abrasi dan banjir rob yang menyebabkan perubahan garis pantai secara signifikan.

Kondisi tersebut terjadi salah satunya di Desa Timbulsloko, dengan laju abrasi rata-rata di desa ini mencapai 279 meter per tahun, tertinggi di seluruh Pantura Jawa. Ribuan hektare tambak, permukiman, hingga hutan mangrove tenggelam akibat abrasi ekstrem ini.

Warga setempat, Mat Sairi (53) merasakan betul dampak abrasi yang terjadi di wilayahnya. Ia yang sedari lahir tinggal di Dusun Wonorejo, Timbulsloko mencontohkan hilangnya lahan persawahan dan tumbuh-tumbuhan di daerah ini.

"Desa ini dulunya itu pesawahan semua, kanan kiri itu sawah semua, sepanjang mulai dari Jalan Raya Onggorawe sampai ke sini semua sawah. Depan rumah itu ya ada tanaman pohon pisang, ada kelapa banyak sekali," kata Sairi kepada awak media di rumahnya, Minggu (18/10/2026).

34 tahun lalu, pria yang juga merupakan ketua kelompok sekaligus koordinator masyarakat untuk pembangunan jembatan dan guludan itu mengingat air asin sudah mulai masuk ke wilayah permukiman. Sawah-sawah sumber mata pencaharian mereka pun beralih fungsi menjadi tambak.

"Tapi terus mulai 1992 yang posisi kanan depan saya itu, yang bagian utara itu sudah ada kemasukan air asin. Jadi sebagian sawah itu sudah mulai tergenang air asin dan dibuat tambak," ujar Sairi.

Upaya adaptasi warga sekitar itu sempat dirasa berhasil. Namun seiring waktu, dampak abrasi semakin nyata dan terus menggerus permukiman serta tambak ikan di Timbulsloko.

"Tambak itu sampai tahun 2010 masih lumayan, masih bisa untuk produksi bandeng, ikan terus, sampai makin sejahtera walaupun itu berubah jadi tambak," ucap Sairi.

"Akhirnya (tambak) sudah kena abrasi sampai ke pemukiman belakang rumah saya ini, itu juga sudah menghantam di belakang rumah, sampai orang-orang itu mau pindah," imbuhnya.