Warga setempat pun kehilangan mata pencaharian setelah tambak-tambak mereka hancur ditelan abrasi. Menurut Sairi, penduduk di wilayahnya kemudian beradaptasi dengan mencari pekerjaan lain, salah satunya menjadi pekerja pembuatan Alat Pemecah Ombak (APO) HexBRIck.

Dalam implementasinya, BOPPJ memanfaatkan inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berupa APO HexBRIck. Struktur berbentuk heksagonal ini dirancang untuk meredam energi gelombang, memerangkap sedimen, serta menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan mangrove di belakangnya.

Proses pencetakan dan pemasangan HexBRIck dilakukan dengan melibatkan masyarakat Desa Timbulsloko secara langsung sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat. Melalui keterlibatan ini, masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga keterampilan teknis dan rasa memiliki terhadap upaya perlindungan pesisir di wilayahnya.

Desa Timbulsloko sendiri ditetapkan sebagai lokasi percontohan (demonstration plot) program ini. Hasil penerapannya akan menjadi dasar perluasan hybrid NbS ke seluruh pesisir Pantai Utara Jawa berdasarkan dengan kebutuhan kondisi lingkungan masing-masing lokasi, dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar penerima manfaat.

Sairi menuturkan setidaknya ada 30 warga Desa Timbulsloko yang terlibat dalam pembuatan HexBRIck. Mereka kebanyakan merupakan warga yang juga bekerja sebagai nelayan.

"Rata-rata itu orang nelayan, karena nelayan itu kan dia kan penghasilan tidak tetap, jadi kalau ikut kerja ini kan bisa tetap gitu (penghasilannya). Mungkin bisa nyamping (menjadi pekerjaan sampingan), kalau sorenya bisa cari udang, ikan, tapi paginya kerja (membuat HexBRIck)," tutur Sairi.

Menurut Sairi, pelibatan masyarakat dalam pembuatan APO HexBRIck merupakan langkah yang tepat karena warga setempat bisa mendapatkan penghasilan yang stabil. Mereka bisa memperoleh hingga Rp 150 ribu dari pekerjaan ini.

"Ini pemberdayaan yang paling bagus lah, alhamdulillah kita bisa menikmatinya bersama masyarakat, teman-teman yang cari ekonomi lebih mudah lagi. (Upah menjadi pekerja HexBRIck) Kalau satu harinya sekarang mungkin Rp 120-150 ribu, " kata Sairi.

Sairi juga menyampaikan bahwa proyek NbS yang digagas oleh BOPPJ menjadi salah satu harapan masyarakat sejak dulu. Mereka akhirnya mendapat jawaban konkret untuk mencegah desanya semakin tenggelam.

"Karena masyarakat itu memang mengharapkan itu dari dulu, kapan ini bisa dicegah, masa laut semakin mendekat, mendekat, satu tahun saja mendekat. Itu masyarakat sangat 100 persen lebih setuju," ungkap Sairi.