Ia menjelaskan transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diprakirakan temporer. Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia.
Sementara itu, surplus neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi. Selain itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan capaian pada triwulan-I 2026.
"Dengan kondisi tersebut, defisit transaksi berjalan pada triwulan-II 2026 tercatat sebesar US$ 12,5 miliar atau setara 3,3% dari PDB, melebar dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar US$ 3,6 miliar atau 1,0% dari PDB," tambahnya.
Ramdan membeberkan transaksi modal dan finansial mencatat surplus didukung oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga dapat menopang NPI. Investasi langsung mencatat surplus yang lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya dipengaruhi oleh terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik.