NADIKABAR.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mengungkapkan kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Jawa Barat pada triwulan ketiga 2026 mencatatkan performa positif dengan surplus 22,088 miliar dolar AS, yang menjadi salah satu motor penggerak perekonomian nasional.

Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, di Bandung, Senin, menjelaskan, berdasarkan data yang dihimpun pihaknya, total nilai ekspor kumulatif Jawa Barat periode Januari hingga September 2026 mencapai 31,218 miliar dolar AS atau mengalami pertumbuhan positif sebesar 8,06 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Struktur ekspor Jabar, lanjut dia, masih didominasi secara mutlak oleh sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi raksasa sebesar 98,58 persen.

"Komoditas utama nonmigas andalan ekspor meliputi golongan kendaraan dan bagiannya, mesin serta perlengkapan elektrik, mesin dan peralatan mekanis, hingga perhiasan dan permata," kata Ari saat dikonfirmasi.

Negara tujuan utama ekspor nonmigas terbesar selama periode ini, lanjut Ari, dipimpin oleh Amerika Serikat senilai 5,28 miliar dolar AS, disusul oleh Filipina sebesar 2,64 miliar dolar AS, serta Jepang senilai 2,20 miliar dolar AS.

Di sisi lain, total nilai impor kumulatif Jawa Barat pada periode Januari hingga September 2026, lanjut dia, tercatat sebesar 9,13 miliar dolar AS, atau terkoreksi tipis turun 1,25 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Struktur impor didominasi oleh golongan bahan baku/penolong yang mencakup porsi 80,39 persen dari total impor, diikuti barang modal 10,28 persen, serta barang konsumsi 9,33 persen.

"Negara asal impor nonmigas terbesar didominasi dari Tiongkok senilai 3,66 miliar dolar AS, Jepang senilai 1,03 miliar dolar AS, dan Korea Selatan sebesar 998,58 juta dolar AS," ucapnya.

Ari mengungkap, bahwa selisih positif antara ekspor dan impor tersebut menghasilkan surplus neraca dagang yang sangat positif bagi Jabar.

"Dengan demikian neraca perdagangan Jawa Barat secara kumulatif membukukan surplus sebesar 22,088 miliar dolar AS. Kita surplus terbesar dengan negara seperti Amerika Serikat, Vietnam, dan Filipina," tutur Ari.