Namun masalahnya, kata Ryzki, makam tokoh bersejarah di TPU Pandu justru belum dirawat secara optimal. Kondisi ini malah berbeda jauh dengan Ereveld di dekatnya yang merupakan kompleks pemakaman bagi 4.000 tentara Belanda yang gugur, termasuk warga sipil Belanda selama Perang Dunia II dan Perang Kemerdekaan Indonesia.
"Kita pernah membersihkan kembali makam-makam, bahkan makam Belanda yang yang kita anggap punya sejarah di Bandung, tapi dia berada dalam keadaan yang kurang terawat. Mereka merupakan bagian dari sejarah Bandung, tanpa harus meihat apakah mereka hitam-putihnya di masa lalu. Tapi yang pasti mereka merupakan tokoh sejarah, dan kita bisa belajar banyak dari dari sejarah hidup mereka," ungkapnya.
"Jadi kita tidak melihat bahwa siapa yang dimakamkan di sana, tapi yang pasti selayaknya lah diberi perhatian pemerintah minimal dengan menjaga makam mereka. Apa salahnya kalau pemerintah kan mungkin tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk bisa mempertahankan. Kalau tidak bisa memperbaiki ya minimal mempertahankan," tuturnya menambahkan.
Menutup perbincangannya dengan NadiKabar, Ryzki pun mendorong pemerintah agar lebih peduli merawat makam tokoh-tokoh bersejarah, seperti di TPU Pandu. Sebab menurutnya, sebuah makam jadi perjalanan sejarah pembangunan sebuah kota yang tidak bisa dihilangkan eksistensinya.
"Jadi ketika kita kehilangan makam misalnya, apalagi makam tua di sebuah kota, maka kita juga pelan-pelan menghilangkan sejarah kota tersebut. Jadi kita enggak mau Bandung kehilangan identitas sejarahnya. Bandung saat ini sudah dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, sudah banyak bangunan yang berubah," pungkasnya.