Bagi ribuan warga di Desa Slangit, air bersih bukan sekadar persoalan kenyamanan. Air adalah urat nadi untuk mandi, memasak, mencuci, hingga menjaga kesehatan keluarga.

"Kini, setelah puluhan tahun bergantung pada bantuan air bersih setiap musim kemarau. Kehadiran kami kesini untuk memberikan solusi permanen," paparnya.

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Sumber Daya Air Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw mengungkapkan, kondisi sumber air di Desa Slangit memang cukup memprihatinkan.

Dari sekitar 20 sumur yang ada di desa tersebut, hanya dua sumur yang masih memiliki ketersediaan air dan tidak mengalami kekeringan saat musim kemarau berlangsung.

Kondisi tersebut diperparah dengan belum optimalnya jaringan pelayanan air perpipaan di wilayah Desa Slangit. Di sisi lain, sebagian masyarakat juga memiliki pertimbangan tersendiri terkait beban biaya apabila harus beralih menggunakan layanan air berlangganan.

Untuk itu, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah alternatif solusi, mulai dari langkah darurat hingga pembangunan infrastruktur air bersih jangka panjang.

Dalam jangka pendek, pemerintah akan terus melakukan distribusi air bersih kepada masyarakat serta menyediakan toren atau bak penampungan komunal agar warga dapat lebih mudah mengakses air.

Selanjutnya, dalam jangka menengah, direncanakan pembangunan sistem pompa air dengan memanfaatkan energi surya (solar cell). Air dari saluran irigasi akan dipompa dan dialirkan menuju titik-titik penampungan sebelum didistribusikan kepada masyarakat.

Sedangkan untuk solusi jangka panjang, pemerintah merencanakan pembangunan sumber air melalui sumur dalam, yang kemudian airnya akan dialirkan menuju bak penampungan untuk dimanfaatkan warga secara bersama-sama.

"Langkah tersebut diharapkan dapat mengakhiri persoalan klasik yang selama puluhan tahun menghantui warga Desa Slangit," jelasnya.