NADIKABAR.COM — Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dicurigai merencanakan operasi pembajakan pesawat dengan taktik "false flag" dan memanfaatkannya dalam upaya menyeret Amerika Serikat (AS) ke dalam perang lanjutan melawan Iran.
Kecurigaan tersebut, seperti dilansir Anadolu Agency, Jumat (2/10/2026), dilontarkan oleh media pemerintah Iran, Press TV, yang mengutip keterangan "sumber regional yang mengetahui informasi tersebut" dalam laporan terbaru pada Kamis (1/10) waktu setempat.
Menurut sumber yang dikutip Press TV tersebut, upaya pembajakan terhadap pesawat maskapai Uni Emirat Arab (UEA), flydubai, yang mengudara dari Dubai menuju Tel Aviv pada Rabu (30/9) waktu setempat, merupakan bagian dari taktik "false flag" yang dimaksud.
Taktik "false flag" merupakan tindakan atau serangan yang dirancang dan dilakukan oleh suatu pihak, namun secara sengaja dibuat seolah-olah dilakukan oleh pihak lainnya untuk dijadikan kambing hitam.
Insiden flydubai itu melibatkan penikaman oleh kopilot terhadap pilot di kokpit, dengan Netanyahu menyebut bahwa salah satu pilot dalam penerbangan itu "tampaknya berupaya menjatuhkan pesawat dengan semua orang di dalamnya". Terdapat 174 orang di dalam pesawat itu, yang sebagian besar warga negara Israel.
Dituturkan sumber regional yang berbicara kepada Press TV bahwa operasi tersebut dibahas dan dimatangkan dalam kunjungan rahasia Netanyahu ke UEA pada Minggu (27/9) waktu setempat, atau tiga hari sebelum insiden flydubai terjadi.
Sumber tersebut mengklaim bahwa Netanyahu didampingi oleh sejumlah pejabat tinggi militer dan intelijen Israel dalam kunjungan rahasia itu. Disebutkan juga bahwa diskusi yang melibatkan para pejabat dari beberapa negara Arab itu berfokus pada merancang operasi yang nantinya dapat dituduhkan kepada Iran.
Sumber regional yang dikutip Press TV itu menduga bahwa tujuan dari operasi tersebut adalah menyeret Presiden AS Donald Trump ke dalam perang lanjutan melawan Iran.
Sumber yang sama mengaitkan operasi tersebut dengan situasi politik yang dihadapi Netanyahu di dalam negeri, mengklaim bahwa PM Israel itu merasa khawatir mengenai prospek koalisinya dalam pemilu parlemen yang dijadwalkan pada akhir Oktober ini.
Laporan yang disampaikan Press TV ini merupakan isu yang sangat liar, dengan media pemerintah Iran itu tidak menyebutkan secara jelas identitas sumber mereka ataupun memberikan bukti dalam laporannya untuk mendukung kecurigaan tersebut.
Sejauh ini, belum ada tanggapan langsung dari Israel, UEA, maupun AS.