NADIKABAR.COM — Pemilu legislatif Israel yang digelar kemarin, akan menjadi penentu nasib Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk kembali berkuasa atau tidak. Lantas, apa dampaknya jika Netanyahu menang atau justru kalah, khususnya bagi warga Palestina?
Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia (UI), Asra Virgianita, menilai kemenangan Netanyahu berpotensi membuat kebijakan Israel terhadap Palestina semakin agresif. Menurutnya, jika kemenangan itu terjadi bisa dipandang sebagai bentuk dukungan publik terhadap kepemimpinannya.
"Kalau Netanyahu menang gak ada perubahan sama sekali, malah mungkin akan semakin agresif, karena merasa ada dukungan publik," kata Asra kepada wartawan, Rabu (28/10/2026).
Dia memperkirakan proses perdamaian Israel-Palestina akan tetap berjalan di tempat jika Netanyahu kembali memimpin. Sementara itu, warga Palestina diperkirakan masih akan bergantung pada bantuan internasional.
"Proses perdamaian ya gitu-gitu aja, warga Palestina tetap bergantung pada bantuan internasional," ujarnya.
Sebaliknya, jika Netanyahu kalah, Asra melihat adanya peluang perbaikan kondisi Palestina. Meskipun, kata dia, dampaknya tidak akan langsung mengubah situasi secara menyeluruh.
"Kalau kalah, ada kemungkinan kondisi lebih baik sedikit, tapi tidak akan berubah total. Solusi dua negara masih sulit. Walaupum secara kawasan mungkin ada dinamika positif hubungan dengan negara-negara di kawasan," jelasnya.
Meski begitu, dia mengatakan pemilu Israel bukan satu-satunya faktor yang menentukan masa depan Palestina. Pengaruh aktor eksternal, kata dia, terutama Amerika Serikat (AS), serta hubungan antarkelompok domestik di kedua pihak turut memengaruhi arah konflik.
"Perlu dicatat bahwa pemilu Israel bukan satu-satunya penentu utama konflik di Palestina. Faktor eksternal seperti AS, relasi kelompok-kelompok domestik di kedua negara juga berpengaruh," paparnya.
"Butuh waktu. Kalau Netanyahu kalah pun tidak mungkin akan terjadi perubahan drastis itu," imbuh dia.
Sebelumnya, Warga Israel berbondong-bondong mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) saat pemilu legislatif digelar pada Selasa (27/10) waktu setempat. Tingkat partisipasi awal untuk para pemilih pun mencetak rekor sebagai yang tertinggi sejak tahun 1981 silam, atau dalam 45 tahun terakhir.
Pemilu legislatif ini akan menentukan nasib Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, yang merupakan PM terlama di negara tersebut. Para pemilih menyebut pemilu yang digelar di tengah situasi perang ini sebagai yang paling menentukan dalam sejarah negara tersebut.
Pemungutan suara dimulai pukul 07.00 waktu setempat, dan akan ditutup pukul 22.00 waktu setempat. Hari pemungutan suara ditetapkan sebagai hari libur nasional di Israel. Terdapat total 12.018 TPS di berbagai wilayah, dengan sekitar 18.000 kotak suara disiapkan.
Dalam pemilu kali ini, ada sekitar 7,3 juta orang yang memiliki hak pilih yang sah, termasuk kurang lebih 1,2 juta warga Israel keturunan Palestina. Dari jumlah tersebut, lebih dari setengah juta pemilih di antaranya merupakan pemilih muda yang akan memberikan suara untuk pertama kalinya.