NADIKABAR.COM — Netflix melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 6% karyawannya atau sekitar 1.000 orang. PHK ini menjadi yang terbanyak sejak 2022 di tengah persaingan ketat dengan perusahaan media konvensional dan platform seperti YouTube.
PHK besar terakhir Netflix terjadi pada 2022. Saat itu, perusahaan memangkas sekitar 450 karyawan dalam dua gelombang setelah mengalami penurunan jumlah pelanggan untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade.
Dikutip dari Reuters, Kamis (15/10/2026), sebagian besar PHK akan menyasar tim produk, teknologi, hukum, dan sumber daya manusia (SDM). Hal itu terungkap dalam email yang dikirimkan oleh Co-CEO Netflix Greg Peters dan Ted Sarandos kepada karyawan pada Rabu.
"Misi kami, yakni menghibur dunia, merupakan ambisi besar. Untuk mewujudkannya, kami harus disiplin dalam menentukan prioritas penggunaan tenaga kerja dan sumber daya. Bisnis kami kuat dan terus tumbuh, dan kami tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai target kinerja setahun penuh," kata mereka dalam memo tersebut.
Netflix memiliki sekitar 16.000 karyawan pada akhir tahun lalu. Meski bisnisnya masih tumbuh, perusahaan menghadapi keraguan investor mengenai kemampuannya mempertahankan pertumbuhan di tengah persaingan industri streaming.
Salah satu yang menjadi perhatian investor di Netflix yakni tingkat keterlibatan pengguna atau engagement, yang diukur berdasarkan durasi waktu pengguna menonton Netflix. Pasalnya, platform seperti YouTube dan TikTok mampu menarik penonton melalui konten buatan pengguna yang dapat ditonton secara gratis. Model bisnis tersebut memberikan keunggulan biaya dibandingkan Netflix.
Saham Netflix telah turun sekitar 25% sepanjang tahun ini, meskipun pada perdagangan Rabu naik 0,7%. Kegagalan Netflix dalam upayanya mengakuisisi aset layanan streaming dan studio Warner Bros Discovery pada awal tahun ini semakin memunculkan keraguan terhadap strategi perusahaan. Paramount menyelesaikan akuisisi Warner Bros senilai US$ 110 miliar pada awal bulan ini untuk membentuk Skydance (SKYD.N).
"Mereka belum berhasil menemukan sumber pendapatan besar lainnya," kata Ross Benes, analis senior di eMarketer.
Ia menambahkan, Netflix masih bergantung pada bisnis berlangganan yang pertumbuhannya mungkin mulai mendekati batas maksimal.
"Pada akhirnya, karena bisnis berlangganan mereka mulai mendekati batas tersebut, mereka perlu mencari sumber pendapatan lain untuk melakukan diversifikasi. Namun, upaya itu masih menjadi tantangan bagi mereka," ujarnya.