Pasien dengan infeksi ALTNV saja dalam penelitian tersebut sembuh sepenuhnya.

Dibandingkan dengan pasien yang hanya terinfeksi DBV, pasien yang mengalami koinfeksi ALTNV dan DBV memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala pernapasan (61 persen vs 38 persen) dan gangguan fungsi ginjal (84 persen vs 66 persen).

Sebanyak 7 dari 38 pasien yang mengalami koinfeksi atau 18,4 persen meninggal dunia.

Peneliti mendeteksi RNA ALTNV pada 1,3 persen dari 47.428 kutu yang dikumpulkan dari 15 provinsi di China. Prevalensi tertinggi ditemukan pada kutu Haemaphysalis longicornis, yakni sebesar 1,8 persen.

Eksperimen juga menunjukkan bahwa H longicornis dapat menularkan virus tersebut kepada tikus.

Peneliti menyebut ALTNV dan DBV ditemukan beredar di wilayah yang sama dan menggunakan vektor kutu yang sama. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan kemampuan diagnosis untuk membedakan infeksi kedua virus, terutama di wilayah yang menjadi endemis SFTS.