Studi ini dilakukan peneliti dari University of Texas at El Paso menggunakan Drosophila melanogaster, yaitu spesies lalat buah yang digunakan sebagai model untuk mempelajari sejumlah proses neurologis.

Peneliti mengamati respons perilaku lalat setelah mengonsumsi kafein pada waktu berbeda. Hasilnya, lalat yang mendapat kafein pada malam hari mengalami penurunan kemampuan mengendalikan respons.

Kondisi tersebut membuat lalat lebih sulit menahan tindakan setelah menerima rangsangan negatif. Peneliti menggambarkannya sebagai perilaku yang lebih impulsif atau ceroboh.

Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah adanya perbedaan berdasarkan jenis kelamin. Lalat betina menunjukkan peningkatan perilaku impulsif, atau perilaku yang sifatnya mendadak dan cepat. perilaku ini jauh lebih kuat di lalat betina dibandingkan lalat jantan.

Efek tersebut muncul meski kadar kafein dalam tubuh kedua kelompok relatif serupa. Artinya, respons terhadap kafein kemungkinan juga dipengaruhi faktor biologis lainnya.

Peneliti menyebut hasil ini perlu dikonfirmasi melalui penelitian pada manusia. Perbedaan hormon, metabolisme, dan sistem saraf diduga dapat memengaruhi respons terhadap kafein.