NADIKABAR.COM — Dalam ajaran Islam, bernazar merupakan salah satu bentuk komitmen atau janji seorang hamba kepada Allah SWT untuk melakukan suatu amalan ibadah tertentu apabila keinginan atau hajatnya terkabul. Salah satu amalan yang paling sering dinazarkan oleh masyarakat adalah menunaikan ibadah puasa.

Pelaksanaan puasa nazar sama seperti puasa lainnya. Hanya saja ada perbedaan dalam niatnya.

Lantas, bagaimana lafaz niat puasa nazar? Apa definisi nazar menurut fikih? serta kapan suatu nazar dianggap sah atau tidak sah menurut syariat?

Mengutip ulasan dalam kitab Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq, nazar adalah mewajibkan atas diri sendiri untuk melakukan suatu amalan ibadah qurbah (perbuatan mendekatkan diri kepada Allah) yang pada asalnya tidak diwajibkan oleh syariat dengan mengucapkan kalimat yang menunjukkan hal itu.

Nazar menjadi tidak sah apabila diucapkan oleh orang yang belum baligh, tidak berakal, tidak bebas berkehendak (budak). Ketika seseorang mengucapkan nazar untuk berpuasa apabila mendapatkan suatu nikmat atau terhindar dari musibah, maka puasa yang tadinya berhukum sunnah atau mubah otomatis berubah menjadi wajib untuk ditunaikan oleh orang tersebut.

Perihal nazar ini telah Allah SWT ajarkan sejak lama. Seperti salah satu kisah dalam Surah Maryam ayat 26 tentang perintah Maryam untuk bernazar:

فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا ۚ فَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّاۚ