NADIKABAR.COM β€” Pengamat musik Aldo Sianturi menilai nilai dan identitas yang melekat pada artis maupun acara kini turut menjadi pertimbangan penonton dalam memilih konser dan festival musik.

β€œPenonton musik hari ini sudah tidak lagi hanya membeli tiket untuk menonton artis. Mereka juga membeli pengalaman, nilai, dan bahkan identitas yang melekat pada sebuah event,” kata Aldo kepada NadiKabar di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, perkembangan media sosial membuat hubungan antara artis, promotor, dan penonton semakin terbuka. Publik dapat mengetahui sikap artis terhadap isu sosial serta cara penyelenggara menangani persoalan lingkungan, profesionalisme, dan keamanan.

Kondisi tersebut membuat keputusan penonton untuk menghadiri konser semakin dipengaruhi oleh kesesuaian nilai antara artis atau penyelenggara dengan penontonnya.

Fenomena itu terlihat dalam sejumlah perbincangan publik mengenai konser dan festival musik. Pada Pestapora 2025, keterlibatan PT Freeport Indonesia sebagai sponsor memicu penolakan sejumlah musisi.

Penyelenggara kemudian memutus kerja sama dengan perusahaan tersebut setelah belasan musisi membatalkan penampilan mereka.

Fenomena serupa terlihat dalam tur Ed Sheeran di Amerika Serikat ketika Macklemore dikeluarkan dari daftar penampil pendukung setelah menyuarakan dukungan terhadap Palestina.

Keputusan tersebut muncul setelah sejumlah pemilik stadion menyatakan keberatan atas kehadiran Macklemore.

Aldo menilai respons penonton juga berpotensi memengaruhi keputusan promotor karena bisnis konser sangat bergantung pada kepercayaan publik.

β€œPromotor sekarang bukan hanya menghitung berapa banyak followers seorang artis atau seberapa besar streaming-nya. Mereka juga harus mempertimbangkan risiko reputasi,” ujarnya.

Menurut dia, kontroversi yang berpotensi memicu boikot, demonstrasi, kehilangan sponsor, atau mengganggu keamanan acara perlu diperhitungkan sebagai risiko.

Meski demikian, Aldo mengingatkan promotor agar tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan tekanan di media sosial. Promotor perlu melakukan verifikasi fakta, menilai risiko, dan melihat konteks persoalan sebelum menentukan sikap.

β€œTidak semua ketidaksetujuan publik otomatis berarti sebuah artis atau event harus dibatalkan. Kita harus bisa membedakan antara kritik, tuntutan akuntabilitas, dan cancel culture,” katanya.