NADIKABAR.COM — Dekan National University of Singapore (NUS) Business School Prof. Teo Chung Piaw menyampaikan sekolah bisnis yang dipimpinnya tengah membangun model pendidikan berbasis AI (AI-native) dengan mengintegrasikan AI dan literasi digital dalam pembelajaran, riset, dan operasional.
Ia mengatakan, NUS Business School ingin masuk ke jajaran sekolah bisnis terbaik di dunia dengan memperdalam keahlian mengenai bisnis di Asia serta menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang akan membangun bisnis yang dibutuhkan negara-negara Asia.
“Saya terus berdiskusi dengan rekan-rekan di sini untuk merumuskan karakteristik sekolah bisnis yang AI-native, termasuk bagaimana mengintegrasikan AI dan literasi digital ke dalam seluruh aktivitas yang kami jalankan,” kata Teo di Singapura, Kamis.
Menurut Teo, menjadi AI-native bukan sekadar menambahkan mata kuliah AI ke dalam kurikulum. Lebih dari itu, konsep tersebut mencakup cara berpikir dan bekerja dengan teknologi dalam berbagai aspek, termasuk mengubah cara belajar dan melakukan riset serta merangkul pendekatan-pendekatan baru.
Ia meyakini nilai pendidikan bisnis di era AI dapat tetap dipertahankan dengan membawa persoalan nyata dari dunia industri ke dalam ruang kelas. Menurutnya, pendidikan bisnis perlu menghadirkan masalah-masalah riil yang dihadapi perusahaan agar mahasiswa dapat belajar dari tantangan yang terjadi di dunia nyata.
Selain AI-native, NUS Business School juga mengembangkan pilar externally engaged untuk memperkuat keterlibatan dengan industri dan sektor publik.
Terkait hal ini, Teo menjelaskan NUS Business School akan meningkatkan upaya agar mahasiswa terlibat dalam menangani tantangan riil dunia usaha. Ia juga mengerahkan jejaring alumni untuk membawa persoalan-persoalan industri kembali ke lingkungan sekolah bisnis.
Tak hanya itu, NUS Business School juga mengembangkan pilar impact-driven yang menekankan riset dengan dampak nyata bagi bisnis, ekonomi, dan masyarakat.
Dalam hal ini, Teo mengatakan para dosen didorong untuk berfokus pada riset berbasis dampak. Menurut dia, jajaran dosen NUS Business School memiliki kapasitas untuk mendorong batas-batas pengetahuan.
Namun, ke depan, mereka juga diharapkan membawa hasil yang diperoleh dari riset tersebut kembali ke lingkungan lokal untuk menghasilkan dampak translasional yang nyata (translational impact).
“Ke depan, inilah cara saya memimpin sekolah ini. Saya ingin menyelaraskan riset, pengajaran, dan keterlibatan dengan industri sehingga ketiganya dapat saling menguatkan,” kata Teo.
Ia juga ingin para dosen lebih berorientasi ke luar (externally-facing) dengan memahami perkembangan dan tantangan yang dihadapi industri, meneliti tantangan tersebut melalui program riset, kemudian membawa hasilnya kembali ke ruang kelas untuk diajarkan kepada mahasiswa.
Menurut Teo, keterhubungan antara riset, pengajaran, dan praktik industri tersebut akan membentuk siklus berkesinambungan (continuous loop) yang dapat saling memperkuat dan membantu NUS Business School mencapai visi yang dituju.
Dalam konteks Indonesia, Teo mengatakan NUS Business School berkomitmen memperdalam keterlibatan dengan berbagai mitra di Indonesia, termasuk mendorong dosen dan mahasiswa berkolaborasi dengan berbagai universitas di Indonesia.
Ia juga ingin memperluas kerja sama dengan pelaku industri di Indonesia agar dosen dan mahasiswa dapat membawa pengetahuan serta keahlian mereka langsung ke lapangan dan mengembangkan riset berdasarkan persoalan nyata yang dihadapi dunia usaha.
“Kami ingin membangun jaringan untuk membantu korporasi, para eksekutif, dan mahasiswa beroperasi di seluruh ASEAN, khususnya Indonesia, serta bekerja sama dengan perusahaan untuk menyediakan program pendidikan eksekutif bagi peningkatan keterampilan (upskilling),” kata Teo.