NADIKABAR.COM — Ratusan warga Desa Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah menggelar ritual budaya nyadran desa untuk melestarikan tradisi dan ungkapan syukur atas limpahan rezeki.
Kepala Desa Kledung Samali, di Temanggung, Jumat, menyampaikan, selain sebagai ungkapan syukur, kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat kebersamaan warga sekaligus melestarikan budaya lokal.
Ia menuturkan prosesi nyadran diawali dengan membawa bucu (nasi tumpeng), ingkung ayam, jajanan pasar, serta gunungan yang berisi hasil bumi berupa sayuran dan buah-buahan ke sumber mata air.
Di lokasi tersebut, warga melaksanakan doa bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap alam sekaligus ungkapan syukur atas sumber kehidupan dan rezeki yang diberikan Tuhan.
Setelah prosesi doa di sumber mata air selesai, warga kemudian mengikuti kirab budaya menuju kediaman kepala desa.
Di tempat tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan mujahadah atau doa bersama untuk memanjatkan puji syukur atas karunia dan limpahan rezeki yang diterima masyarakat.
"Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diberikan kepada masyarakat. Wujudnya melalui sedekah bumi berupa bucu, ingkung, dan gunungan hasil bumi," katanya.
Salah satu bagian yang dinantikan masyarakat adalah perebutan gunungan hasil bumi. Berbagai sayuran dan buah-buahan yang disusun menyerupai gunungan tersebut diperebutkan warga sebagai simbol semangat masyarakat untuk kembali berikhtiar mencari rezeki di muka bumi.
Rangkaian nyadran desa juga diisi dengan berbagai pertunjukan seni tradisional. Setelah prosesi kirab, kelompok penari menampilkan kesenian Bangilun di sejumlah punden, termasuk di kawasan sumber mata air Kali Serbut dan Kali Jurang.
Ia menyampaikan, pementasan tersebut menjadi salah satu upaya masyarakat untuk menjaga keberlangsungan kesenian tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya setempat.
Selain itu, masyarakat juga disuguhi pertunjukan wayang kulit selama dua hari dua malam.