Ia mencontohkan Indonesia sebagai gambaran besarnya tantangan tersebut di kawasan Asia-Pasifik.
Indonesia memiliki sekitar 230 juta pengguna internet, 331 juta koneksi seluler aktif, dan sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial, sehingga narasi palsu dapat beredar dengan cepat di tengah masyarakat yang semakin mengandalkan perangkat seluler dan platform digital.
Benny mengatakan pergeseran konsumsi berita ke media sosial dan platform video membuat sistem rekomendasi algoritmik semakin menentukan informasi yang dilihat, dipercaya, dan dibagikan publik.
Karena itu, katanya, kantor berita harus memperkuat kecepatan verifikasi sekaligus memastikan informasi terkonfirmasi tetap mudah ditemukan masyarakat di tengah arus konten algoritmik.
“Bagi 41 anggota OANA, tantangan ini adalah panggilan untuk membangun ketahanan informasi bersama: memperkuat jurnalisme terpercaya, mempercepat verifikasi lintas batas, dan membangun tanggung jawab bersama untuk melindungi kepercayaan publik,” kata Benny.
Dalam forum tersebut, ANTARA juga menawarkan penguatan peran OANA dari jaringan pertukaran berita menjadi jaringan integritas informasi kawasan.
Usulan itu antara lain mencakup pembentukan jaringan verifikasi cepat dan sistem peringatan dini lintas negara, pertukaran metadata forensik untuk mendeteksi deepfake, penguatan literasi media lintas bahasa, standar etika AI bersama, serta kerja sama untuk lisensi konten yang adil dengan perusahaan AI.