Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia lulusan Universitas Indonesia dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar.(K), mengatakan obesitas juga dapat meningkatkan risiko fibrilasi atrium.
Menurut Rizky, risiko tersebut dapat dipengaruhi oleh perubahan struktural dan metabolik, proses inflamasi, serta faktor yang berkaitan dengan tidur.
βObesitas dapat meningkatkan risiko fibrilasi atrium melalui berbagai mekanisme. Penurunan berat badan yang dicapai dan dipertahankan secara berkelanjutan dapat membantu mengurangi frekuensi dan/atau durasi episode fibrilasi atrium, sekaligus memperbaiki faktor risiko kardiovaskular lainnya,β kata Rizky.
Mengutip sebuah studi, Rizki menyampaikan responden dengan obesitas memiliki probabilitas 85 persen lebih tinggi untuk memiliki risiko penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun ke depan.
Sementara itu, tantangan lain dalam pengelolaan obesitas adalah mempertahankan berat badan dalam jangka panjang. Studi ACTION APAC di Indonesia menunjukkan sebanyak 68 persen orang dengan obesitas mengalami kenaikan berat badan kembali setelah berhasil mempertahankanya selama enam bulan atau lebih.