Kebutuhan tersebut semakin relevan di tengah perubahan perilaku investor. Data industri menunjukkan 59 persen profesional pengelolaan kekayaan menilai nasabah Indonesia semakin memahami investasi. Namun, lebih dari 70 persen saldo tabungan dan investasi ritel masih ditempatkan pada deposito.

Secara global, minat terhadap instrumen investasi alternatif juga meningkat. Sebanyak 68 persen individu dengan kekayaan bersih tinggi (high-net-worth individuals/HNWI) berencana meningkatkan eksposur terhadap private equity. Meski demikian, hanya 17 persen yang menilai pengalaman konsultasi investasi mereka telah berlangsung secara terintegrasi dan personal.

Kondisi itu menunjukkan adanya ruang bagi layanan konsultasi keuangan untuk membantu nasabah memahami pilihan investasi dan membangun portofolio yang lebih terdiversifikasi. Dalam proses tersebut, rekomendasi produk perlu mempertimbangkan profil risiko, tujuan investasi, kebutuhan likuiditas, serta pemahaman nasabah terhadap instrumen yang dipilih.

Menjawab kebutuhan tersebut, OCBC menghadirkan Premier One, layanan yang menggabungkan pendampingan finansial personal, akses prioritas terhadap solusi investasi, serta manfaat regional dan gaya hidup. Layanan ini dirancang berdasarkan tujuan keuangan, tahapan kehidupan, profil risiko, kebutuhan likuiditas, serta kepentingan keluarga dan bisnis nasabah.