NADIKABAR.COM — Diplomasi budaya sering dipahami sebagai kegiatan memperkenalkan seni, makanan, pakaian, maupun tradisi kepada masyarakat negara lain. Melalui pertunjukan tari, pameran batik, pergelaran wayang, atau festival kuliner, Indonesia dapat membangun kedekatan dengan masyarakat internasional.

Dengan demikian, hubungan Indonesia dengan negara lain tidak hanya dibentuk oleh perjanjian, perdagangan, maupun kerja sama pertahanan, tetapi juga oleh persepsi masyarakat negara lain terhadap budaya yang ditampilkan Indonesia.

Sejatinya, diplomasi budaya bukan kegiatan memindahkan budaya dari satu tempat ke panggung internasional secara netral. Begitu negara memilih sebuah tarian, pakaian, atau seni untuk ditampilkan, negara sedang melakukan seleksi.

Seleksi itu tentu saja tidak selalu lahir dari niat menyingkirkan kelompok tertentu. Keterbatasan anggaran, waktu, dan kebutuhan acara juga berpengaruh. Meskipun demikian, akibatnya tetap politis, yakni sebagian budaya memperoleh panggung nasional, sedangkan sebagian lainnya lebih sering tinggal di tempat asalnya.

Indonesia sendiri membutuhkan simbol bersama. Sebagai negara kepulauan dengan ratusan kelompok etnik dan bahasa daerah, Indonesia tidak mungkin memperkenalkan seluruh kekayaan budayanya, sekaligus dalam satu acara.

Maka, menampilkan batik, wayang, atau ondel-ondel, misalnya, dapat menjadi salah satu cara praktis untuk membuka percakapan tentang keberagaman Indonesia.

Seperti diketahui, batik Indonesia telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2009, sementara wayang lebih dahulu tercatat pada 2003 sebagai Mahakarya Warisan Lisan dan Takbenda Kemanusiaan, sebelum masuk dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda pada 2008.

Di tingkat nasional, ondel-ondel ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2013. Pengakuan tersebut menegaskan nilai budaya ketiganya, tetapi tidak berarti bahwa batik, wayang, atau ondel-ondel dapat mewakili seluruh keragaman tradisi Indonesia.

Masalah mungkin muncul manakala simbol yang dipilih berulang kali mulai dianggap sebagai gambaran utuh sebuah bangsa. Batik, misalnya, begitu kuat melekat pada citra Indonesia sehingga orang mudah lupa bahwa tradisi tekstil Nusantara jauh lebih beragam.

Bahkan, batik sendiri bukan sekadar motif dekoratif. UNESCO menjelaskan bahwa teknik, simbolisme, dan praktik batik menyertai berbagai tahap kehidupan masyarakat, dari kelahiran hingga kematian. Motifnya juga memperlihatkan pengaruh lintas budaya, termasuk Arab, Eropa, Tiongkok, Jepang, India, dan Persia.

Begitu pula dengan wayang yang memiliki banyak bentuk, tradisi, dan lingkungan sosial. Dengan kata lain, budaya yang dipamerkan sebagai identitas nasional sebenarnya menyimpan sejarah perjumpaan yang jauh lebih rumit daripada gambar pada sebuah brosur pariwisata.

Pada dasarnya, identitas nasional bukan daftar ciri yang sejak awal sudah lengkap dan tinggal diumumkan kepada khalayak global. Identitas nasional dibentuk, dipelihara, dan dinegosiasikan melalui pendidikan, media, kebijakan negara, serta berbagai upacara publik.

Dalam diplomasi budaya, pemilihan tarian, pakaian, atau kesenian tertentu dapat ikut membentuk gambaran tentang Indonesia yang dikenal masyarakat internasional.