NADIKABAR.COM — Perusahaan kecerdasan artifisial, OpenAI, kembali melakukan akuisisi pada perusahaan rintisan kali ini untuk memperkuat lini bisnis bioteknologi.

Perusahaan rintisan tersebut bernama Orchestra Bio yang merupakan perusahaan pengembang perangkat lunak bioteknologi AI dan baru berusia empat tahun.

Langkah perusahaan tersebut diumumkan OpenAI di situs website-nya seperti dilaporkan oleh TechCrunch, Selasa (20/10) waktu setempat.

Rincian kesepakatan antara OpenAI dan Orchestra Bio tidak diungkapkan, tetapi perusahaan rintisan tersebut dilaporkan telah mengumpulkan sekitar 20 juta dolar AS (senilai Rp320 miliar di 2025) pada 2025 dari para perusahaan modal ventura seperti Andreessen Horowitz, Atria, dan 8VC.

Dalam kerjanya, Orchestra menciptakan agen AI yang membantu perusahaan bioteknologi mengelola detail operasional penemuan obat, mulai dari melacak keuangan hingga menyelesaikan masalah penjadwalan uji klinis.

OpenAI menyatakan akan menambahkan tim dan teknologi Orchestra untuk mengerjakan Rosalind, model AI-nya untuk penelitian ilmu hayati, dan alat terkaitnya, Rosalind Workbench, sebuah kerangka kerja yang bertujuan untuk membantu para peneliti merencanakan eksperimen dan menganalisis hasilnya.

OpenAI telah mendapatkan beberapa manufaktur obat besar sebagai pelanggan Rosalind, termasuk menurut mereka seperti Moderna dan Novo Nordisk.

Akuisisi ini adalah contoh klasik bagaimana laboratorium AI terbesar layaknya OpenAI dan Anthropic terus membangun perangkat lunak untuk industri-industri seperti farmasi.

Di dunia perusahaan rintisan, ada kekhawatiran yang terus-menerus bahwa setiap saat, laboratorium tersebut akan meluncurkan fitur baru dan menjadi pesaing. Dalam kasus ini, beruntungnya Bio Orchestra diakuisisi dan bukan disingkirkan dari industri.

Penerjemah: Livia Kristianti