NADIKABAR.COM β Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) mulai menunjukkan hasil dalam melawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Jumlah hotspot atau titik api secara nasional menurun.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan kombinasi tim redaksi operasi modifikasi cuaca (OMC), operasi darat, operasi udara, dan penegakan hukum menjadi strategi utama dalam menghadapi karhutla.
Dengan mengukur efektivitas hasil, dari tiga model pemadaman, OMC menempati peringkat pertama karena hujan terbukti mampu memadamkan area kebakaran yang luas.
Operasi darat menempati peringkat kedua, terutama untuk lahan gambut yang api bawah tanahnya sulit dipadamkan. Water bombing berada di urutan ketiga karena kapasitas angkut air terbatas, sekitar 4 ton per sorti.
"Namun ketiganya tidak bisa dipisahkan. Water bombing memadamkan kepala api, lalu pasukan darat masuk membasahi lahan. Tanpa water bombing, pasukan darat juga berisiko," ujar Kepala BNPB Suharyanto, dikutip tim redaksi, Minggu (13/9/2026).
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Sabtu 12 September 2026 pukul 21.04 WIB, hotspot high confidence pada enam provinsi prioritas tercatat:
β’ Kalimantan Tengah: 197 titik, turun dari 271 titik;β’ Kalimantan Barat: 91 titik, meningkat dari 51 titik;β’ Sumatera Selatan: 62 titik, meningkat dari 11 titik;β’ Kalimantan Selatan: 7 titik, turun dari 47 titik;β’ Riau: 0 titik; danβ’ Jambi: 0 titik.
Kalimantan Tengah masih mencatat jumlah hotspot high confidence tertinggi di tim redaksi enam provinsi prioritas, meskipun jumlahnya menurun dibandingkan sehari sebelumnya. Sementara itu, Riau dan Jambi tetap nihil hotspot high confidence pada pemantauan terakhir.
Peningkatan yang terpantau di Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan menjadi perhatian dalam penguatan patroli, groundcheck, serta operasi pemadaman. Perkembangan karhutla tetap dinamis dan dapat berubah mengikuti kondisi cuaca maupun bahan bakar di lapangan.
Operasi Modifikasi Cuaca dilakukan di Kalimantan Barat yang berlangsung pada 5-14 September telah melaksanakan 9 sortie penerbangan dengan penggunaan bahan semai sebanyak 7.200 kilogram NaCl.
Penyemaian dilakukan pada wilayah sasaran di Mempawah, Singkawang, Bengkayang, Landak, Kubu Raya, Sanggau, Sekadau, Sintang, Ketapang, dan Kayong Utara. Pelaksanaan OMC tersebut tercatat menghasilkan estimasi volume air hujan sekitar 87,9 juta meter kubik. Perhitungan peningkatan curah hujan secara keseluruhan akan dilakukan setelah operasi berakhir.
Sementara itu, OMC di Kalimantan Tengah dilaksanakan pada 6-15 September 2026. Hingga 11 September telah dilaksanakan 7 sortie dengan penggunaan bahan semai sebanyak 5.600 kilogram NaCl, dengan penyemaian tim redaksi lain di sekitar Kapuas, Palangka Raya, Barito Selatan, Barito Utara, Barito Timur, dan Pulang Pisau.
Hujan yang dihasilkan melalui OMC membantu pembasahan lahan dan mendukung kerja tim pemadaman di lapangan. Meski demikian pada ekosistem gambut, pemadaman, pembasahan, dan pendinginan harus tetap dilakukan secara berkelanjutan karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan.