Lebih lanjut, Kepala PRSIMB BRIN Nugroho Adi Sasongko mengatakan pemetaan diperlukan untuk mengetahui sejauh mana nilai ekonomi rumput laut telah terbentuk pada setiap tahapan pengolahan.

"Kami ingin melihat sebenarnya turunan produk-produk kelautan, khususnya rumput laut, sudah sampai sejauh mana. Apakah masih dalam bentuk biomassa kering atau sudah dalam bentuk produk turunan dan berapa besar nilai tambahnya," ujar Nugroho.

Selain menelusuri aliran produk dan nilai tambah pada setiap tahapan, kajian juga melihat kemungkinan pemanfaatan bahan baku secara lebih menyeluruh melalui pendekatan biorefinery cascading.

Pendekatan tersebut memungkinkan satu bahan baku dimanfaatkan secara bertahap untuk menghasilkan beberapa jenis produk.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (Astruli), Pontas Tambunan, menjelaskan pendekatan tersebut dapat digunakan untuk memanfaatkan rumput laut secara lebih menyeluruh.