Lemak di paha dan bokong memiliki karakteristik yang berbeda dengan lemak visceral. Lemak visceral lebih aktif secara metabolik dan berkaitan dengan resistensi insulin, perlemakan hati, diabetes tipe 2, gangguan kolesterol, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular lainnya.
Oleh karena itu, dr Yunita menegaskan lingkar paha tidak dapat dijadikan indikator kesehatan tunggal. Kesehatan seseorang juga dipengaruhi oleh pola hidup, aktivitas fisik, pola makan, pola tidur, kondisi kesehatan mental, faktor genetik, lingkungan, dan bukti pemeriksaan kesehatan secara berkala.
"Jadi, bukan sekadar seberapa besar pahanya, tetapi apa yang menyusun paha tersebut dan seberapa baik fungsinya," ujar dr. Yunita.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak merasa sehat hanya karena memiliki paha besar.
"Ingat, bukan besarnya paha, namun massa otot yang terbentuk dari besarnya paha," tegasnya.