NADIKABAR.COM — Psikolog klinis dan keluarga Pritta Tyas Mangestuti mengatakan orang tua perlu hadir sebagai tempat yang aman bagi anak untuk bercerita sehingga anak tidak terbiasa mencurahkan ceritanya ke kecerdasan buatan (AI).

Menurut psikolog yang juga pendiri portal belajar parenting daring Good Enough Parents itu, kebutuhan dasar anak adalah mendapatkan kasih sayang secara tanpa syarat.

"Orang tua perlu menyadari betul bahwa kebutuhan dasar anak itu adalah dicintai apa adanya," kata Pritta dalam sebuah sesi diskusi di Jakarta, Rabu.

Karena itu, ketika anak menyampaikan cerita yang mungkin membuat orang tua terkejut atau tidak sesuai dengan harapan, orang tua sebaiknya menahan reaksi spontan agar anak tidak merasa dihakimi.

"Ketika anak bercerita sesuatu yang menurut kita mungkin berpikir 'waduh kok gini ya,' kita harus tarik napas, buang napas, stay cool, meskipun di dalam hati kita berkecamuk gitu. Tapi jangan mengeluarkan komentar-komentar yang langsung membuat anak merasa dihakimi," ujarnya.

Menurut Pritta, respons spontan seperti marah, omelan, atau menghakimi dapat membuat anak enggan kembali bercerita.

Selain membangun rasa aman, Pritta mengatakan orang tua perlu memahami perubahan yang dialami anak ketika memasuki masa praremaja dan remaja.

Orang tua, menurut dia, perlu mempelajari berbagai perubahan emosional dan fisik yang terjadi pada anak sesuai dengan tahap perkembangannya.

"Orang tua perlu belajar gejolak emosi apa, gejolak fisik apa yang timbul pada anak-anak seusia dia, atau masa remaja seusia dia," ujarnya.

Pritta juga menekankan pentingnya orang tua memahami momen dan cara mencurahkan kasih sayang serta membangun kedekatan dengan anak.

Menurut dia, mengobrol dengan anak tidak selalu harus dilakukan dalam suasana formal. Orang tua dapat memanfaatkan kegiatan sehari-hari untuk membangun koneksi, seperti makan bersama, pergi membeli makanan atau es krim, hingga berolahraga bersama.

Dalam situasi yang lebih santai, kata Pritta, anak dapat merasa lebih rileks. Orang tua juga perlu memperhatikan cara bertanya agar percakapan tidak terasa seperti interogasi.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah orang tua terlebih dahulu menceritakan pengalaman mereka sendiri terlebih dahulu sebelum masuk topik pembicaraan.

"Tiga hal itu yang orang tua perlu lakukan, belajar untuk melakukan supaya anak remajanya ini bisa percaya bahwa orang tuaku ini tempat yang aman untuk aku cerita dan bertanya apa pun, karena aku tidak akan langsung dihakimi dan tidak akan langsung diomelin," kata Pritta.