"Anak-anak kami ini banyak yang diikatnya lebih dari itu. Ada yang tiga tahun, ada yang sudah lima tahun di daycare. Bahkan, pemulihan anak-anak kami saja lebih dari tuntutan itu," ujar Imedia sambil sedikit terisak dan mata berkaca-kaca.

Imedia mengaku anaknya sendiri diperkirakan butuh waktu sekitar lima hingga 10 tahun untuk menjalani terapi pemulihan. Sejumlah anak lain juga mengalami gangguan kesehatan hingga beberapa didiagnosis ADHD maupun ASD.

Imedia dan para orang tua makin kecewa karena hakim meniadakan kewajiban membayar restitusi kepada para terdakwa.

Padahal, lanjut Imedia, kebutuhan biaya terapi menjadi beban yang harus ditanggung orang tua secara kontinyu. Sebagai contoh, biaya sekali terapi anaknya sebesar Rp100.000, dengan frekuensi minimal dua kali dalam seminggu.

"Coba dihitung kalau selama lima tahun itu berapa. Kalau restitusi ditiadakan, terus bagaimana? Apa pertanggungjawabannya?" kata Imedia.