NADIKABAR.COM — Perkumpulan Agen Asuransi Indonesia (PAAI) menilai perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi tantangan baru bagi industri asuransi, termasuk agen asuransi yang mendorong perlunya peningkatan kompetensi sekaligus beradaptasi mengikuti perilaku konsumen.
Pengurus PAAI dan Senior Agency Managing Partner AIA Indonesia St Akromah mengatakan perubahan digital yang berlangsung cepat turut mengubah cara perusahaan memasarkan produk hingga melayani nasabah sehingga diperlukan kemampuan membaca peluang pasar sekaligus membangun pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan calon nasabah.
"Tantangan industri saat ini luar biasa, mulai dari perubahan digital yang begitu cepat hingga perilaku konsumen yang berubah drastis. Oleh karena itu, kami sebagai agen asuransi harus meningkatkan profesionalisme, kompetensi, dan kemampuan membaca peluang," ujar dia dalam acara konferensi pers Ulang Tahun PAAI ke-10 di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, digitalisasi tidak hanya menyangkut penggunaan teknologi untuk pemasaran. Agen juga perlu memahami sistem dan aplikasi digital yang digunakan dalam proses bisnis asuransi agar dapat menjelaskan informasi tersebut kepada nasabah.
Tantangan lainnya adalah kesenjangan literasi digital di kalangan nasabah. Dia mencontohkan, sebagian nasabah dengan kekayaan tinggi (high-net-worth individual/HNWI) yang berusia 50 tahun ke atas masih membutuhkan pendampingan dalam menggunakan layanan digital.
Kondisi tersebut membuat agen memiliki tanggung jawab tambahan, yakni membantu nasabah memahami penggunaan teknologi sekaligus memberikan penjelasan mengenai produk dan manfaat perlindungan asuransi dengan keterampilan digital yang mendukung pekerjaan mereka.
"Marketing-nya sudah menggunakan digital, kemudian aplikasi yang digunakan juga sudah digital. Ini menjadi tantangan bagi agen karena kami tidak hanya harus menguasai produk, tetapi juga digitalisasi agar bisa mentransfer pengetahuan kepada nasabah," kata Akromah.
Seiring perkembangan teknologi kecerdasan buatan, PAAI mulai melakukan upaya secara mandiri untuk mempersiapkan agen menghadapi perubahan industri. Organisasi tersebut juga menjajaki integrasi pengembangan kompetensi AI dengan lembaga sertifikasi profesi (LSP).
Ia juga mengatakan pengembangan kompetensi tersebut menjadi penting agar agen tetap mampu memberikan pendampingan kepada nasabah agar bisa menjelaskan manfaat produk secara tepat.
Akromah mengatakan perubahan teknologi perlu dimanfaatkan agen asuransi untuk memperluas akses terhadap produk asuransi, termasuk bagi masyarakat yang belum memiliki perlindungan.
Edukasi mengenai pentingnya asuransi sejak dini menjadi bagian dari upaya tersebut. Hal itu terutama relevan di tengah tingginya inflasi medis yang berpotensi meningkatkan beban keuangan keluarga ketika menghadapi risiko kesehatan.
Bagi PAAI, peningkatan kompetensi dan profesionalisme menjadi kunci agar agen mampu bertahan sekaligus menangkap peluang di tengah transformasi industri asuransi.