NADIKABAR.COM — Sejumlah pakar memperingatkan pemerintah Australia bahwa mereka bisa menderita kerugian hingga rata-rata 6 miliar dolar Australia atau sekira Rp76 triliun per tahun akibat musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bertambah panjang lantaran perubahan iklim.
Hal itu disampaikan Emergency Leaders for Climate Action (ELCA), anak organisasi lembaga swadaya masyarakat The Climate Council, yang berisikan mantan pemimpin dinas pemadam kebakaran dan kedaruratan dalam laporan yang dirilis Kamis sembari menyebutkan kerugian itu bisa berlangsung hingga 30 tahun ke depan.
Pasalnya laporan itu juga menyebutkan durasi musim karhutla bertambah panjang 21 persen sejak 1979, mempersempit rentang waktu untuk mitigasi dan upaya pengurangan bahaya.
Seturut laporan tersebut, komposisi proyeksi kerugian terdiri dari dampak buruk terhadap kesehatan dan kesejahteraan yang menyumbang 32 persen, 25 persen dari hilangnya aktivitas perdagangan, 20 persen dari kerusakan bisnis dan bangunan publik, 17 persen dari hilangnya tempat tinggal, serta 6 persen dari hilangnya lapangan kerja.
Laporan itu menyebutkan bahwa Australia tenggara kini mengalami 14 hari cuaca kebakaran ekstrem lebih banyak per tahun dibandingkan pada 1998, dan jumlah badai ekstrem yang dipicu oleh kebakaran yang tercatat dari 2004 hingga 2024 tercatat enam kali lipat lebih tinggi dibandingkan 20 tahun sebelumnya.
Laporan itu mengatakan bahwa per 2023-2024, Australia memiliki 10.336 lebih sedikit sukarelawan pemadam kebakaran dibandingkan empat tahun sebelumnya, sementara jumlah posisi berbayar bertambah 433 dalam periode yang sama.
ELCA memperingatkan bahwa dua musim panas mendatang akan menimbulkan risiko yang sangat signifikan bagi masyarakat, dengan dampak perubahan iklim diperburuk oleh peristiwa El Nino yang sedang berlangsung.
"Kombinasi yang berbahaya ini menciptakan kondisi bagi rekor suhu panas, kekeringan kilat, dan kemungkinan memburuknya kebakaran hutan dan lahan selama beberapa musim panas mendatang," imbuh laporan tersebut.
Biro Meteorologi Australia menyampaikan dalam pembaruan terkininya pada awal Oktober bahwa El Nino berada pada tingkat mendekati rekor, dengan prakiraan intensifikasi lebih lanjut.