NADIKABAR.COM — Pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi berharap pengembangan energi baru terbarukan atau EBT, termasuk panas bumi, terus dioptimalkan.

Dia mengatakan pengembangan EBT merupakan keharusan yang perlu dijalankan dengan prioritas yang jelas dan berkelanjutan.

"Potensi panas bumi kita masih cukup besar, tetapi belum dieksplorasi secara optimal. Ini tantangan," kata Fahmy, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Berdasarkan paparan Badan Geologi Kementerian ESDM pada Agustus 2026, potensi panas bumi nasional mencapai sekitar 24 gigawatt (GW) yang tersebar di 368 lokasi.

Sementara itu, kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) berdasarkan data Ditjen EBTKE Kementerian ESDM baru 2.776 megawatt (MW), atau sekitar 11,6 persen dari total potensi.

Dengan kata lain, masih ada sekitar 88 persen potensi panas bumi nasional yang bisa dioptimalkan sebagai sumber energi masa depan.

Besarnya kesenjangan antara potensi dan pemanfaatan itulah, menurut Fahmy, menjadikan momentum 100 tahun panas bumi sebagai pengingat untuk bergerak lebih serius dan terarah.

Hal ini termasuk mendorong lebih banyak investor terlibat dalam eksplorasi.