Memasuki satu abad perjalanan panas bumi sejak pengeboran pertama di kawah Kamojang, Jawa Barat, pada 1926, potensi energi ini harus lebih dioptimalkan untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia di masa depan.

Peran ini berakar dari sejarah panjang, karena potensi panas bumi di Indonesia sendiri pertama kali ditemukan 100 tahun lalu di Kamojang, Jawa Barat, tempat PGEO beroperasi hingga saat ini.

Dari sumur KMJ-3 pada 1926, uap kering dihasilkan secara konsisten dan sumur itu menjadi salah satu tonggak awal industri panas bumi kita.

Ke depan, PGEO menargetkan kapasitas yang dioperasikan sendiri tumbuh menjadi 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034, selaras dengan arah RUPTL.

Fahmy menegaskan swasembada energi tidak cukup dengan menambah ragam sumber energi, tetapi perlu keberanian menetapkan prioritas berdasarkan potensi domestik.

Sinergi pemerintah, perusahaan energi nasional, dan investor menjadi kunci agar potensi panas bumi benar-benar dioptimalkan pada abad kedua pengembangannya.

"Pengembangan EBT merupakan satu keharusan yang harus segera dilakukan secara terus-menerus," kata Fahmy.