"Kami dari perhimpunan selalu berusaha untuk meningkatkan akses terhadap layanan aritmia, termasuk juga berusaha untuk menambah dokter-dokter aritmia tentunya dengan bantuan berbagai pihak," ujarnya.
Menurut Yoga, Indonesia juga masih menghadapi kesenjangan dalam ketersediaan sumber daya layanan aritmia dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik.
Ia mengatakan Indonesia termasuk lima negara dengan rasio terendah dalam jumlah dokter aritmia, tindakan ablasi, dan pemasangan alat kejut listrik bagi pasien yang membutuhkan.
"Dan tentunya ini merupakan PR besar untuk kita semua," kata penasihat di Heart Rhythm Society (InaHRS) itu.